Mbok Mirah, sebut saja nama panggilan wanita tua ini yang masih aktif melakukan urusan rumah tangga walaupun usianya sudah melewati 70 tahun. Hari harinya ditemani anak dan cucu tak membuat Mbok Mirah menjauhi dunia wanita, aneka masakan yang dihidangkan tetap menjadi santapan keluarga, apalagi di masak dengan cara wanita Indonesia.

Mbok Mirah dan batu uleg
Ini hanyalah sebuah kebiasaan memasak yang turun temurun dilakukan Mbok Mirah dan anak anaknya. Serasa masih hidup di zaman batu, sibuk dengan gilingan (uleg) yang mungkin menjadi rahasia resep masakan tersendiri baginya. Oh,… menggunakan uleg (gilingan) itu lelah apalagi yang digiling biji-bijian keras menjadi seperti saos, tapi tidak bagi Mbok Mirah untuk tetap menjadi wanita yang menggunakan batu alam.
Emansipasi Wanita
Salah kaprah,.. emansipasi wanita malah dianggap menjadi sumber hilangnya tradisi dan moral wanita Indonesia. Apakah Anda seorang wanita karir yang rajin menggunakan blender (sebuah mesin giling yang membuat malas)? Maaf, jika Anda tersinggung tapi kenyataan memang demikian
Walaupun pada hari libur wanita tetap menggunakan blender dengan alasan pekerjaan menjadi lebih cepat terselesaikan. Ini bukan masalah cepat atau lambat, satu hari selama seminggu, sebulan, bersama masakan tradisi rasanya lebih nikmat bukan?

Lebih praktis dan cepat / Credit: Google
Tak heran beberapa rumah makan tradisi saat ini menyajikan masakan mereka dengan cara unik. Seperti Mbok Mirah yang terus menggiling dengan batu, penikmat terlena dengan segala masakan yang disajikan. Saya rasa bukan karena masakan (karena tak jauh beda dengan masakan Mbok Mirah
), tapi lebih mendekati dengan tata penyajian yang serba batu dan liat.
Emansipasi wanita,.. sekali lagi ‘salah kaprah’. Ini hanya bagian dari wanita yang ikut andil dalam perkembangan dunia (saya rasa Anda lebih tahu tentang ini). Tapi bukan membuang jauh kebiasaan yang dulunya menjadi sajian keraton masa itu.
Wanita Dan Masakan Bergengsi
Masih juga menggunakan blender? Cobalah lirik masakan yang mengikut sertakan batu dan liat, kemudian lihat tarifnya. Batu alam (uleg) yang biasa kita temui disungai menghasilkan aneka masakan bergengsi. Jangan berfikir kita menjadi kelas bawah hanya dengan batu alam dan liat, tapi itulah asalmu yang mungkin menjadikan dunia wanita sebenarnya. Tak harus setiap hari, seminggu ataupun sebulan dengan sajian ini rasanya kita tak perlu takut kehilangan tradisi Mbok Mirah, seorang wanita Indonesia.
Inti Post:
- zaman batu, batu gilingan, ZAMAN BATU DI INDONESIA, peninggalan sejarah zaman batu, hasil peninggalan kebudayaan zaman batu di indonesia, teknologi jaman batu, COBEK BATU DARI MEDAN, perbedaan ulekan sama blender, pengertian blender rumah tangga, gilingan, gambar alat-alat bersejarah pada zaman batu muda, GILINGAN CABE DARI BATU, gambar rumahy zaman batu, gambar teknologi produksi giling padi tradisional, resep masakan keraton, perkakas zaman batu muda, gilingan bumbu dari batu, gilingan cabai, perkembangan teknologi zaman batu muda, hasil kebudayaan pada zaman batu,













pas liat uleg-annya saya mikir kok ini persis dengan uleg-an yang pernah ada di rumah saya dulu, mungkin sekarang juga masih ada di rumah bapak saya. ternyata dari Medan toh
soalnya di Jawa sini uleg-annya beda model … hehehe
btw, sendirinya apakah sering membantu istri memasak di dapur menggunakan ulegan model itu? ditunggu ya postingannya pengalaman masak memasak menggunakan ulegan itu
Wkkk, sayangnya,… saya cuma bisa protes sama istri ‘ngga perlu pke blender’
Kalau soal masak memasak, saya paling jago masak nasi dengan MagicJar
haiyahhh
kirain tadi itu protes tapi di rumah udah pake penggilingan model itu aja
dasaaaaaaaaaaarrrrrrrrrr kalian para laki-laki emang egois!!!!!!!!!
hahahahaha
Bukan egois lho mbak, nyatanya… masakan dengan penggilingan seperti itu beda rasa, saya akui lho. Boleh pake blender, tapi jangan sering2. Pilih mana, makan dirumah atau diluar
Di desa, pemakian alat masak tradisional masih banyak digunakan, kalau bicara alat modern memang ada beberapa yang memilikinya, hanya saja alat masak tradisonal masih tetap digunakan..
Tapi sekarang banyak yang kena syndrome hidup praktis, sehingga semua suka yang instant dan tidak repot..
‘semua’ dalam hal ini bukan berarti semua orang, tapi dalam konteks mereka yang mulai meninggalkan alat masak (dan sejenisnya)yang sifatnya tradisional dan mungkin bikin repot..
Sekarang kan waktunya serba cepat dan ringkas, walaupun hari libur sekalipun! Padahal hari libur saat yang tepat dengan segala ekspresi dan keunikan
kalua bahasa sayanya “mutu & usel”.. hehhe
di kampung saya masih dipakai tu mas…
Saya kira tadi ‘untu usil’
Sepertinya daerah pinggiran masih banyak yang memakai, itupun kaum Ibu usia 50-an
Memang beda sih rasa gilingan cobek ama blender. Tapi capeknya itu lho…
Sebulan sekali saja rasanya gak sanggup hahahaa…. *ngeles
Kalau pakai cobek serasa masih berserat dilidah, ngga seperti blender yang halus banget!
Kalau capek ya wajar, blog walking beginian juga capek ko’
dunia berkembang pesat
tapi ia masih dengan batu zaman dulu
salut…
sedj
Mungkin karena belum familiar menggunakannya, atau memang terbiasa
Ibu saya, 52 thn, juga masih setia dengan batu gilingan. Walaupun masak sambelado ikan yang banyak, tetep aja diulek cabenya hahaaaa.. tapi emang beda rasanya, lebih enak kalau digiling manual ketimbang pake blender
Cabe uleg memang enak, berserat dan kadang sangkut di gigi
nice info sob, seperti blognya yang mantabss, saya dukung terus yang punya blogny, sukses dan maju terus sob, di tunggu post updatenya..
Pecinta Download (PD)
Makasih
kadang-kadang ibu saya masih pake itu heheheh
Make yang mana? ‘Pake itu’ punya banyak pengertian lho
hasil ukean itu katanya lebih enak loh dibanding pake blender
Enaknya, serat sering sangkut di gigi
Jujur, saya ga bisa nguleg!
Kalo nguleg lamanya minta ampun. Tangan doang yang geol-geol sampe kapalan, bumbunya masih utuh. hehehe
Tapi memang enak masakan yang bumbunya diuleg daripada diblender. Kalo diblender kaya ada rasa mesinnya (rasa mesin itu seperti apa ya?, hihihi)
Rasa mesin itu dingin, keras, dan pahit
Mungkin klo batu nya gede cepat halus ya?
iya mungkin batunya itu harus lebih guedeee, biar sekali uleg langsung penyet semua. hehehe
hahaha.. iya juga ya. Ulekan adalah artefak zaman batu yang masih eksis hingga saat ini…
jadi masih diakui donk sebagai salah satu peninggalan sejarah
Mungkin aja kalo dibikin pakai ulegan batu, cita rasanya jadi lebih enak. Soalnya pembuatannya menggunakan cara yang alami. Selain itu, energi alam dari batu mungkin bisa masuk ke bumbu yang diuleg, sehingga efeknya bisa positif pada makanan yang dihasilkan nantinya
Yang makan jadi bisa lebih sehat gitu.
Hahah,…. Pernah belajar energi (Chi) ya mas, ko’ malah tau ada efeknya
Ah.. dirumah masih pake ulegan kok…
tapi ada blender juga… buat jus buah…
jus buah kan nggak mungkin pake ulegan…
nice post! mencerminkan Mas ini org yg kritis yah…
makasih udah berkunjung ke blog ku…
ijin pasang blog ini di link ku ya..
Silahkan Bu’, postingan Bu thia juga sempat menarik saya
Wow, ibu sayapun masih menggunakan uleg-uleg daripada blender. Walaupun lebih praktis blender, tetapi beliau masih tetap menggunakan uleg-uleg.
Tapi kebanyakan Ibu2 sering menggunakan ‘uneg-uneg’ pada suami ketimbang ‘uleg-uleg’
Eeeeeeeh ibu saya masih pake batu cobek lho.
Lebih gampang ngebersihinnya ketimbang kalo pake blender.
Tinggal siram sudah bersih, ngga seperti blender yang harus dilepas dan disikat
walah koq komen saya ilang ya wakaka..
jadi inget saya ah ngerengek terus pengen beli mesin cuci padahal belum punya anak n nyuci g banyak
Itu sih kebiasaan pria, mau gampangnya aja
ibu saya justru masih setia dgn cobek (uleg-uleg) bang…tak terbiasa dgn alat2 modern mungkin ya…
Yang modern, yang ribet
saya yg bukan ibu2 saja sering bikin sambal pake cobek gitu kok…maknyus lho
Nah kan, akhirnya mengaku juga,… kalau ini memang ‘Mbak Wien’ yang suka nyobek
saya masih merasakan lezatnya makanan kalau masih tersentuh hal2 yang berbau tradisi, mas, termasuk gerusan uleg dari batu itu.
Karena rasa atau sudah terbiasa, Mas?
rasanya akan lebih enak kalau di uleg gan,
Yang alami lebih enakk dan nikmat.. .
Saaaaaaaaaadaaappppp
Tradisi Memasak Sperti Mbok Mirah harus dibudayakan ..
saya masih mengandalkan uleg kok,
kata yang punya lidah, “rasa” uleg dan blender beda lho
Lidah anak saya malah ngga bisa bedain
Tapi gak ada hubungan dong cewek yang masak pake blender sama emansipasi.. Tapi klo di Pontianak rat2 orang masih pake ulekan deh,, disini nyebutnya lesung
Ditempat saya lesung malah terbuat dari kayu, dulunya dipakai pemecah padi (kalau tak salah)
masalah rasa menurut saya enakan mengunakan batu uleg untuk menggiling bumbu masakan dari pada mengunakan blender.
coba saja buat nasi goreng bumbu nya di giling dengan batu uleg, dan bedakan rasanya dengan menggunakan blender. kurang maknyus buat saya hehe..
ya itu menurut saya, gk tahu kao yg lainnya hehe..
salam kenal mas?