Dan mereka berjuang di medan pertempuran selama lebih dari tiga abad, tanpa ‘cuti’ dalam melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan (Hari Kemerdekaan).
Merayakan hari kemerdekaan tahun ini akan sungguh dianggap unik dibalik berbagai macam acara dan permainan yang mungkin belum pernah kita ikuti. Baik melalui media online maupun secara langsung dan uniknya kali ini banyak acara yang disuguhkan malam hari demi semangat kemeriahan hari kemerdekaan. Apakah Anda sibuk melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan? Dan itu bukan alasan bahwa hari kemerdekaan merupakan hambatan menjalankan ibadah.

Sisingamangaraja, perjuangan belum berhenti
Ramadhan akan datang setiap tahunnya, tak beda dengan hari kemerdekaan. Dan sebagai muslim tak sepantasnya melewatkan sehari tanpa beribadah di bulan Ramadhan hanya karena satu alasan, merayakan kemerdekaan dengan berbagai event akan menyerap banyak energi dan waktu. Itulah sepintas pendapat beberapa orang yang enggan merayakan kemerdekaan di tahun ini.
Tahukah Anda, bahwa pendahulu kita berjuang selama ratusan tahun tanpa henti walaupun di bulan suci Ramadhan. Bahkan semangat mereka semakin tinggi dengan harapan balasan Rahmat berlipat ganda dalam berjihad.
Kita bisa mulai menghitung, berapa banyak orang yang ikut merayakan hari kemerdekaan dalam berpuasa? Pastinya tak seperti tahun-tahun yang lalu, semua sibuk dengan amal ibadah masing-masing. Kalau saja pendahulu kita sempat mengadakan cuti ‘perang’ hanya karena puasa, mungkin kita tak pernah meraih kemerdekaan.
Dan kita sekarang hanya tinggal menikmati, walaupun menghargai dan mengirimkan sedikit doa bagi pahlawan nasional ternyata sangat sulit saat ini. Siapakah kita? Apa yang telah kita perbuat selama mencapai kemerdekaan? Atau kita hanya menikmati dunia dengan berbagai miras dan obat terlarang?
Merayakan Pesta Hari Kemerdekaan
Selama 66 tahun kita merdeka tapi tidak keseluruhan dari kita memahami dengan benar tentang sebuah perayaan. Apakah perayaan kemerdekaan identik dengan berbagai acara yang memeras keringat di siang hari? Dan saya yakin banyak lingkungan yang memilih ‘cuti’ dalam pesta kemerdekaan ditahun ini. Padahal, kemerdekaan di proklamirkan di bulan Ramadhan.

Perayaan hari kemerdekaan malam hari
Tidak seperti desa ini, salah satu desa di bibir kota Medan (Kab.Deli Serdang) yang membuat acara di malam hari dan mengundang Event hiburan (pasar malam), permainan, dan tidak sedikit pedagang yang ikut menikmati rezeki di bulan penuh Rahmat. Ini adalah wujud bahwa mereka masih menghargai pengorbanan pendahulu kita dengan semangat dalam berbagai perlombaan, bahkan perlombaan tahun ini dibubuhi sikap religi peserta. Mereka wajib mengenakan pakaian muslim dan ikut berdoa untuk para pejuang kita diakhir acara.
Berikan Di Hari Kemerdekaan Terkecil Sekalipun
Mungkin Anda salah seorang yang tidak ikut merayakan pesta kemerdekaan tahun ini, tapi itu bukan masalah ketika Anda mengingat hal terkecil.
Bahkan mengikuti satu perlombaan dengan niat ‘menghargai’ adalah ibadah, dan mengirimkan sebaris kalimat doa tidak akan membuat bibir Anda kering.
Saya akan menganggap Anda seorang yang egois, memikirkan diri sendiri dengan ibadah penuh tanpa sedikitpun mengirimkan doa bagi pendahulu kita. Kita tidak dituntut berjiarah ke makam mereka, tapi hal sekecil apapun yang kita lakukan di bulan Ramadhan sekaligus hari kemerdekaan niscaya mendapatkan balasan berlipat ganda.
Inti Post:
- gambar patung monumen, contoh patung pahlawan, macam-macam patung monumen, event acara kemerdekaan, macam macam games untuk mengisi acara, menyusun sebuah acara berkaitan dengan hari kemerdekaan,













setuju bg..
Puasa bukan alasan untuk tidak ikut merayakan hari ulang tahun bangsanya..kalau merayakan ulang tahun diri sendiri atau teman saja bisa, masa untuk negara gak bisa.
Bedanya, kalau dengan temen tentu pakai Black forest
Yak proklamasi kita juga disaat tanggal 17 ramadhan kan yee.. jadi peristiwa ptg banyak terjadi dibulan puasa memang.. so mereka gak pernah cuti
Gambar “pasar malem” kayaknya lebih pantes buat nunjukin kondisi “pesta” daripada “perayaan” kang –a
Emang pasarmalem, Mas. Sengaja diundang buat ngeramein acara
walaupun puasa, jiwa nasionalisme kita tetep harus tinggi,,,
salam sukses gan,,,
Tuh Patung dekat rumah saya Mas, orang Medan juga ya?…he..he..he..
Saya lupa kalau hari ini hari kemerdekaan, serasa belum merdeka sih.
Hallo mas,, sory nih.
Blognya tampak aneh dan hancur, tampilannya jd mobile, terus mau koment saja gk bisa karena gk ada kotak komentarnya. Terpaksa saya reply dari Om Azhar baru bisa muncul. hihi…
Ini pasti karena mas pake plugin mobile gitu ya..
sungguh terlalu!!!
Merdeka!!!
Masa sih?…….
Plugin sekarang senengnya ko’ aneh2 ya
Dari orok memang udah di Medan Bang,…..
Ssst,…. saya juga ngga pasang bendera ko’ Bang
Kecenderungan seseorang adalah berdalih dan mencari alasan untuk pembenaran. Saya setuju dengan tulisan di atas..
Sebagai warga negara yang baik, tidak ada alasan untuk tidak merayakan Hari kemerdekaan..
Untungnya saya ngga ikutan upacara, jadi ngga perlu berdalih yang mengakibatkan berkurangnya nilai puasa.
Bahkan ada sekolah yang meliburkan siswa kelas 1 SD. Ini maunya sang guru atau siswa yang belum cukup memahami kemerdekaan?
Mental kunci utamanya,karena jaman sekarang mental rapuh beda sama jaman dahulu yang sangat amat kokoh
Alasan tak ikut upacara karena takut badan lemas.
jangan bandingkan dengan zaman dulu, pasti sangat jauh bedannya
Kan pas proklamasi memang pas puasa ramadhan, Mas..
Memang pas puasa kan?
Tapi kita sekarang lebih banyak lupa soal mempringati, apalagi jatuhnya bersamaan dengan ramadhan yang makin males ngadain acara hari jadi.
Saya melihat memang peringatan 17-an tidak seramai dan semeriah kalau tidak bertepatan dengan bulan puasa. Di perumahan saya kebetulan acara lombanya diisi dengan gerak jalan santai. Dimajukan tanggal 31 Juli. Tapi kalau selamatan tirakatan tetap sama dilakukan pada tanggal 16 Agustus malam setelah Tarawih.
Nah, begitu lebih baik daripada tidak ikut meramaikan sama sekali. Yang penting semangat dan do’a nya harus tetap ada
Dulu juga pas kemerdekaan pejuang lagi pada puasa
setuju…. puasa jgn halangi untuk kegiatan sehari2
Salaman dulu, Om Fanabis
Waahh saya tuh pengen banget ada perayaan kemerdekaan di komplek, karena pengen bawa anak ikutan lomba2 gitu. Sayangnya gak ada hiks
Sedikitpun ngga ada? Ko’ sekarang makin kelewatan generasi kita ya?
theme keren..
*silahkan dihapus coment ini*.
Ogah,… udah terindeks. Bikin masalah crawling aja!
tapi kemeriahan kemerdekaan seperti lomba2 sedikit berkurang pada saat ramadhan ini
Dalam meraih kemerdekaan itu sendiri sebenarnya tidak lepas dari unsur Ramadhan dan turunya Al Quran itu sendiri lho. .
baca deh artikel ane pada link di komentar ini . ..
tempatku juga merayakan lho, hehe
Setidaknya kita tertolong oleh penjual bendera yang banyak ada di pinggir jalan. Bagi yang lupa, pasti mau tak mau jadi ingat akan kemerdekaan kita.
Tulisan ini menghentak meski lembut..
Aku suka kritik seperti ini, semoga mereka yang saat ini terbuai agama, bisa sadar bahwa mereka berdiri di tanah Indonesia yang perjuangan memerdekakannya butuh darah pahlawan.
Bener Om DV, sekarang kita terlalu enak, dan malah kurang enak. Padahal setahun sekali mengingat hari ‘besar’ bukan tugas berat.
ia mas.. kemaren tirakatan yg biasanya sampe pagi, ehh kemaren jam 10 malam dah slesai.. alasannya pada mau pulang biar bs sahuur
Untuk sementara, mengenang kemerdekaan ditiadakan dulu (itu kata mereka…)
sungguh, kita terharu setiap kali membaca sejarah. betapa para pendahulu negeri ini demikian rela mengorbankan harta, raga, dan nyawanya demi merebut dan mempertahankan kemerdekaan. namun, yang terjadi beberapa tahun melewat, rasa haru itu makin lama makin memudar. disadari atau tidak, rasa hormat kepada para pendahulu negeri makin lama kian hilang. dan jelas, ini contoh yang kurang baik buat anak cucu. ramadhan dan agustusan mestinya bisa disinergikan.
Dan saya rasa Ramadhan ini adalah puncak dimana kita kehilangan nasionalisme dibanding sebelumnya. Tahun2 lalu masih ada sekelompok orang yang ambisius merayakan hari kemerdekaan, dan tahun ini yang paling parah.
Bagaimana dengan tahun depan yang mungkin juga tak beda dengan sekarang?
bener banget tw puasa bukan alasan utnuk tidak merayakan hari kemerdekaan negara ini, harusnya malah kita lebih semangat lagi,,,
Boleh aja semangat 45, asal jangan tengah hari diiringi segelas air
cermin masyarakat sekarang yang memikirkan diri sendiri, tidak mau lagi mengingat sejarah….apalagi jasa-jasa pendahulunya.
Benar, waktu saya mudik sedikit sekali saya lihat pedagang bendera merah putih. Lebih sepi dari tahun lalu. Padahal kalau tidak salah tahun lalu juga ramadhan kan?
Benar Mbak Em, sekarang sepertinya rasa nasionalis berkurang. Makin banyak yang terlalu menikmati tanpa melihat flash baxck