Siapa yang tidak mengenal kuda lumping atau jaran kepang, sebuah tradisi bangsa yang dulu masih mengakar di bangsa kita. Siapa yang tidak pernah melihat atraksi kuda lumping? Mungkin mereka yang tinggal diluar komunitas penduduk Jawa dan anak-anak sekarang. Anak-anak sekarang kalau ditanya malah menjawab “Game online baru ya, Om?” Wajar saja, sepuluh tahun itu waktu yang panjang untuk merekam ingatan anak yang sedang tumbuh.

Atraksi kuda lumping yang digelar seniman jalanan
Seni itu muncul kembali setelah lenyap di daerahku awal tahun 2000, tepatnya saat terjadi era reformasi Negara, munculnya dunia maya dan telphone selular. Kuda lumping atau sebagian menyebutnya jaran kepang saat ini jarang ditemukan, terlebih lagi didaerah urban. Setahun terakhir, tradisi kesurupan masal ini muncul dipinggiran kotaku yang dibawakan seniman jalanan. Uniknya, mereka menggelar atraksi hanya dengan menyewa halaman kecil didepan rumah penduduk. Hasil yang mereka terima dari sumbangan penonton akan dibayarkan kepada pemilik halaman rumah dan sisanya dibagi bersama.
Sangat berbeda dengan atraksi kuda lumping sepuluh tahun silam, dimana mereka dipanggil dan dibayar oleh yang mempunyai hajat dan tarifnya tergolong mahal. Dandanan pemain tidak berirama, bebas, sehingga tidak terlihat seperti atraksi kuda lumping yang dulu saya lihat. Melengkapi seragam dan peralatan butuh biaya besar, itu sebabnya mereka tidak ambil pusing dalam masalah dandanan. Yang penting penonton terhibur dan rela memberikan sumbangan lebih.
Kita Lupa, Dan Mereka Menjaga
Lupakan semua tentang dandanan dan peralatan yang tidak memadai, ambil hikmah baiknya. Saat ini banyak tradisi yang sudah terlupakan, bukan hanya kuda lumping atau jaran kepang tapi kesenian daerah lain patut dilestarikan walaupun seniman jalanan ini hanya menjalankan hobinya ataupun berusaha hidup didunia yang penuh persaingan. Patut dihargai usaha mereka, menjaga dan melestarikan budaya sekaligus menutupi kebutuhan hidup. Hilangkan opini negative yang sebagian orang menyebutnya “pengangguran tak punya kemampuan”, usaha mereka memerlukan kerja keras untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat dalam menggelar atraksi kuda lumping atau jaran kepang. Setidaknya anak-anak sekarang sudah tahu bahwa tradisi ini milik mereka, tak ada lagi klaim budaya dimasa mendatang saat mereka menjabat posisi penting.
Inti Post:
- kuda kepang, kuda lumping, youtube vidiokudakepang, zaman batu tua, kuda lumping jawa tengah, vidio jarang kepang tersera di dunia, vidiokudakepang, tradisi kuda lumping, foto alat kesenian jaran kepang, kuda lumping jawa barat, kebudayaan kuda lumping, jaran kepang atraksi, kuda kepang jalanan, kuda kepang jawa, anak_anak kuda kepang, perlengkapan dalam kuda lumping, vidio kuda kepang, atraksi kuda lumping, kelompok sosial dan budaya, kuda kepang jawa tengah,













budaya yang tergerus, semoga yang menjaga bisa lebih mengenalkannya kembali di masyarakat.
Harapan saya juga begitu!
Keberadaan mereka patut mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata. Waktu kecil, di Magelang Jawa Tengah, sering melihat pertunjukan kuda lumping. Dan saat ini di Nganjuk Jawa Timur, Jaranan masih berkembang meskipun tidak seperti beberapa tahun yang lalu.
Kita hanya berharap kan? Tapi aksi pemerintah ngga ada sebelum ada yang mengklaim.
Banyak kesenian/budaya yang hampir dilupakan, padahal secara tidak langsung keberadaan kesenian tradisional semacam ini merupakan wujud kepribadian sebuah bangsa. Anak sekarang hampir nggak tahu, lebih fasih bicara game maupun acara televisi. Patut disayangkan memang, tapi apa mau dikata, lambat laun semua akan terkikis oleh perjalanan jaman dan kemudian keberadaan kesenian tradisonal semacam ini akan menghilang, andai tidak ada yang peduli!.
Setidaknya kita bertrima kasih kpada seniman jalanan
mari kita lestarikan budaya asli bangsa agar tidak dicuri oleh negara tetangga, budaya kuda lumping adalah budaya asli kita jangan sampai kecolongan lagi
Sepakat (salaman dulu)
Yah, budaya seperti ini mulai di tinggalkan..
Di desaku beberapa tahun lalu masih laris manis acara jatilan seperti ini setiap ada hajatan..
sekarang? lenyap!
Aktornya sudah tua, ngga ada penerusnya, mbak.
budaya yang begitu banyak kalo tidak di regenerasi,,
memang akan tergerus oleh globalisasi,,
Regenerasi itu sulit melawan tekno yang berkembang
Ngomong-ngomong tentang kuda lumping jadi ingat kampung halaman nih. Sekedar sharing, Bapak saya dulu adalah pimpinan kelompok kuda lumping di Mojowarno, Jombang. Kebetulan rumah saya jadi base camp kru sekaligus gudang penyimpanan alat-alat pertunjukkan. Sejalan dengan waktu ternyata peminat kuda lumping makin sedikit. Kalau ada hajatan sekarang mereka lebih memilih nanggap orkes dangdut dengan mengundang beberapa penyanyi seksi.
Yaa… ini memang fakta yang nggak mengenakkan tapi harus dihadapi. Sampai akhirnya seluruh alat-alat pertunjukkan terpaksa dijual karena sepi order dan nggak mau penuh-penuhi rumah. Pembeli adalah salah satu pengusaha rekaman Surabaya yang saat ini gencar bikin shooting video kesenian daerah. Jadi praktek kesenian sebagian besar telah beralih dari tontonan live menjadi kaset video. Ini adalah PR besar buat penggiat kesenian agar bisa mewujudkan kebudayaan yang bisa memberi makan bagi pelaku sejarahnya.
Sad story, mas. Jadi ngga salah kan kalau seniman ini atraksi kita sisihkan sedikit uang.
mari kita lestarikan budaya tanah air agar tidak pundah
Mari (gandeng tangan…)
iya ya, miris juga melihat kebudayaan kita lama2 tergerus oleh zaman dan teknologi.
btw, aku gak pernah loh mas nonton kuda lumping, soalnya didaerah aku kagak ada, adanya cuma tatung klo untuk atraksi kesurupan. Mirip tapi tak sama
Dan saya malah ngga pernah lihat Tatung
sekarang banyak kesenian yang udah mulai ditinggalkan karena tersingkir oleh kesenian dari barat. biasanya anak muda jaman sekarang juga sudah tidak mau melanjutkan, alasannya terlalu ribet. ini menjadi PR kita buat memajukan kesenian seperti ini lagi.
Bukan terlalu ribet, mas. Tapi karena tak ada penggerak!
lestarikan budaya anak bangsa
You’re *marked spam*