Berapa orang yang hidup di Negara kita berfikir logika? Belum tentu mereka yang hidup di daerah urban bisa berfikir logika, dan kebalikannya tak sedikit dari mereka yang jauh dari komunikasi bisa berfikir logika. Mengapa harus logika? Zaman sekarang bukan lagi seperti seratus tahun yang lalu, melawan penjajah dengan segala bentuk mistik dan spritualisme yang dimiliki pendahulu kita.
Tidak disangka saat ini manusia mampu menggunakan telepati dan berkomunikasi dengan siapapun diseluruh belahan bumi. Berpindah tempat dari pulau ke pulau lain dalam hitungan menit, yang dahulu diceritakan orang tua kita hanya kaum spritualis mampu melakukannya. Logika telah meruntuhkan dongeng dan legenda yang dulu hanya ada didalam hayalan.

Pintu lintasan kereta, logika sebelum menerobos
Begitupun masih banyak masyarakat kita belum memahami dengan benar untuk berfikir logika. Seperti pintu kereta yang jelas-jelas melarang pengendara untuk melintas, tapi beberapa orang tetap menerobos dan berfikir bahwa kereta masih jauh. Logika bahwa kereta api tak dapat langsung berhenti seperti kenderaan yang kita tunggangi, kecepatan tinggi dan terbuat dari besi, apapun jenis kenderaan kita bisa remuk berkeping keeping.
Ketika sejarah dan dongeng bercerita tentang dunia lalu, kenapa harus mengaitkan kebesaran masa itu dengan mistik. Masyarakat kita masih lekat dengan kepercayaan pendahulu, hanya sedikit dari kita yang berfikir bahwa zaman itu telah didukung dengan logika. Seperti halnya ketika mereka mendatangi spritualis untuk mengobati penyakit, berfikir logika ‘apa kandungan ramuan yang diberikan?’. Bukan berfikir bahwa ‘dia’ telah diberi anugerah oleh pendahulu dengan kekuatan mistik. Sampai kapan pemikiran kuno itu berakhir jika media pun masih mengeluarkan bacaan mistik? Terus begini, seratus tahun lagi bangsa kita masih belum berfikir logika.
Dunia lain itu memang ada, tapi bukan berarti kita harus berkiblat kepada mereka.
Inti Post:
- berfikir, berfikir logika, berpikir logis, palang kereta api, logika berpikir manusia, berfikir logis, logika berpikir, palang pintu kereta, logika digunakan untuk berpikir dan bertindak, logika, BERPIKIR LOGIKA, palang pintu lintasan kereta, logika digunakan untuk berpikir dan bertindak kereta api, kereta palang pintu, logika digunakan untuk berfikir dan bertindak, kereta\, logika berfikir, logika untuk berpikir, ciri khas logika, pintu kereta,













Mungkin logika saat ini menjadi nomor dua bro…
Ngga heran kepercayaan terhadap mistik, hingga saat ini masih saja tumbuh subur dijaman yang serba modern….
Yah itu dia, sulit rasanya mengubah tradisi bangsa
ternyata bukan hal yang mudah utk membebaskan masyarakat kita dari berbagai mitos dan mistik masa silam, mas. butuh waktu dan beberapa generasi. yang justru saya heran, kaum elite kita malah babar blas ndak pakai logika. kalau toh pakai logika, yang mereka gunakan malah logika terbalik. kalau ada pejabat ngomong “tidak tahu” sesungguhnya dia “sangat tahu”! doh!
intinya ga ada yang ga mungkin di dunia ini……..
salam persahabatan dr MENONE
Tepat sekali, selagi masih bisa berfikir, terus lah berfikir dan mudah2an bangsa kita bisa berubah
Terkadang memang ada sebagian orang yang sudah tau, tapi tetap saja lebih ingin menikmati pikiran tanpa logika,,, sepertinya itu lebih mudah dan lebih menyenangkan saja buat mereka.. ini yang sulit.
Kalau mereka ditanya, jawabnya ‘tergerus tradisi’
Sing a song of Kla, “Kuanggap kita tlah sama dewasa… mampu bicara dengan logika…. ha…”
yah, mungkin emang kita susah kali untuk diajak maju…
Mungkin, tapi kalau pendidikan dari dasar sudah diajarkan logika, lambat laun tradisi itu memudar
wah, ini tadi aku udah komen panjang2 kok kagak masuk yak
intinya seh aku bilang klo orang tua udah ngomongin mistis kagak bisa lah anak2nya mau nentang dengan segala logika yang ada.. Padahal kadang rasanya kagak masuk akal yak..
Kalau orangtua ngomong mistis, cukup angguk2 aja. Kalau mbantah, susah! Malah dianggap anak durhaka
iya bener tuh, susah klo udah nentang orang tua, hehehe
Emang kita harus berfikir yang realistis aja…
Realistis, realita
Kalau saya memilih berpikir, bermimpi, dan bercita-cita tanpa logika…tapi bertindak memang harus dengan logika.
Karena toh sudah dibuktikan, kayak jurasic park digagas dengan mimpi tanpa logika, ternyata setelah dikerjakan dengan logika ilmiah beneran bisa kita meng-clone, walaupun belom dinosaurus. Terminator dan matrix menggagas mimpi bahwa kita dikuasai mesin dan robot. Ternyata setelah dikerjakan dengan logika, nyatanya sekarang kita tergantung bener sama google, wikipedia, facebook, dll yang notabene sekumpulan mesin server dan algoritma bot.
Bener, sama seperti dulu kita bermimpi tentang telepati. Sekarang jadi kenyataan
Untuk hal-hal yang menyangkut spiritual ada yang bilang logika harus dinomorduakan. Logika digunakan buat penyeimbang tindakan, bukan sebagai sebuah pembenar yang selalu benar. Mengapa? Karena ‘Logika’ itu sangat-sangat nisbi, amat terbatas. Contoh, ada hal-hal non material yang tidak bisa diraba, tidak bisa dilogika oleh manusia namun materialnya bisa dirasakan kehadirannya. Apa yang diyakini masuk akal saat ini oleh manusia belum tentu selamanya akan tepat sesuai logika kita saat ini. Betul?
Betul, harus diakui bangsa kita belum tepat menempatkan logika dan spritual.
Saya juga heran, kalau ada yang “aneh” sedikit saja langsung heboh.
Batu hangat, Lantai hangat, Pisang bercabang, Mata air muncul tiba – tiba
Langsung jadi “Keramat”
Kok malah tau banyak, bang? Sering kunjungan ksana ya?
Sebenarnya lebih menarik bila difikirkan dengan logika ada yang bisa diperhitungkan,kalau mistik pembawaannya percaya aja pada yang cerita,padahal biasanya gak gitu-gitu amat
Masih percaya dengan mistik?