Beberapa minggu yang lalu saya mendapatkan sepucuk surat dari seorang sahabat pena. Sahabat pena yang telah mengukir persahabatan selama beberapa tahun. Dan uniknya, sang sahabat masih menggunakan kertas dalam komunikasi yang kini telah berubah. Padahal saya telah berupaya agar komunikasi antar sahabat lebih nyaman menggunakan surat elektronik dan jejaring sosial. Memang upaya ini setidaknya telah dijalankan, tetapi seni dari tulis menulis memang tidak bisa dihilangkan.

Sepucuk surat dari sahabat pena
Sebelum internet dikenal banyak orang, kertas menjadi salah satu alat komunikasi tertulis yang panjang lebar mengungkapkan berbagai cerita sahabat pena. Siapa yang tak kenal istilah ‘Sahabat Pena‘ waktu itu? bahkan Pak pos kebanjiran surat. Lihat saja sekarang, sebagai kurir pos isi kantong surat di motor pun tak pernah penuh seperti dulu. Padahal dulu, saya sendiri sangat senang jika seorang kurir pos menghampiri rumah saya. Betapa tidak, surat dari berbagai sahabat pena bisa diterima lima kali dalam seminggu. Alangkah indahnya waktu itu, padahal surat itu hanya cerita yang terkadang bualan belaka.
Dimana sahabat pena itu berada saat ini? Ketika internet telah mengancam tradisi surat menyurat yang membentuk sahabat pena, dan hanya saya yang masih menerima surat bertulis tangan (di kecamatan). Jangan bandingkan dengan dulu, Pak pos bisa menghabiskan satu hari mengantarkan surat untuk satu kecamatan. Kini berbeda, sangat berbeda jauh. Saat itu mengirimkan sepucuk surat bisa memakan waktu tiga hari, tapi kini seperti dongeng lampu Aladin yang bisa memindahkan istana dalam sekejap mata. Tak perlu menunggu berhari hari untuk membaca sebuah surat, bahkan sebelum kita berkedip surat itu sudah berada di inbox sahabat pena.
Belajar Menulis, Dan Bukan Menenggelamkan Zaman
Sesekali cobalah melihat tulisan pelajar sekarang, apakah lebih baik dari tulisan pelajar dahulu (sebelum adanya media elektronik)? Hampir setengah dari siswa di kelas saya dahulu memiliki sahabat pena, hingga tak heran diantara siswa tersebut sering adu keindahan tulisan dan isi cerita. Itu sebabnya ‘sahabat pena’ saya tak pernah mau mengirimkan tulisannya melalui surat elektronik, membiarkan dirinya hanyut bersama puisi sahabat dan seni keindahan tulisan. Walaupun usia terus bertambah, belajar menulis tetap masih diteruskannya. Inilah sahabat pena, dan benar benar seorang ‘sahabat pena’.
Adakah keinginan kita untuk mengajak generasi sekarang untuk melanjutkan tradisi ‘sahabat pena’ dan tetap belajar menulis? Mungkin berat, mengingat dalam membangun sahabat pena memerlukan biaya kertas dan perangko. Biaya tersebut sudah bisa berkali kali mengirimkan surat elektronik maupun jejaring sosial, pertimbangan ekonomi sekarang yang harus diperhatikan
Ada kelebihan pelajar saat ini, mereka lebih unggul menggunakan media elektronik dibanding pelajar terdahulu. Tapi tidak dalam seni yang berwujud nyata. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah pantas berkomunikasi melalui media elektronik disebut sebagai Sahabat Pena?
Inti Post:
- sahabat pena, contoh surat untuk sahabat, contoh alat komunikasi tradisional, contoh surat untuk sahabat pena, contoh surat sahabat pena, surat untuk sahabat, CONTOH SURAT PERSAHABATAN, contoh surat pena, surat sahabat pena, contoh surat sahabat, contoh teks surat sahabat pena, contoh surat untuk teman, masih adakah sahabat pena, tulisan pena, surat sahabat, contoh surat kepada sahabat untuk kelas 3 sd, gambar alat komunikasi tertulis, contoh surat kepada sahabat, perbedaan berkirim surat dengan yang dulu dan sekarang, komunikasi tertulis masa kini,













Sekarang mungkin sudah sulit ditemukan kebiasaan seperti dulu, surat menyurat dengan sahabat… sampai sekarang saya masih punya arsip setumpuk surat dari teman dan juga ‘teman dekat’. Semua sudah tergantikan dengan HP dan internet.
Sahabat pena mungkin kurang pas jika di kaitkan dengan media elektronik, karena kata pena sendiri menurut pemahaman saya kurang lebih bermakna bolpoint/alat tulis
Terimakasih
Ada benernya juga mas, antara pena dan elektronik
He..he..jaman saya sudah tidak ada surat menyurat secara fisik. Semua sudah via email, chat, bbm, dll.
Surat hanya digunakan untuk perjanjian bisnis saja yang memang secara legalitas memerlukan evidence hard copy
Andhy Posting Terakhir..Linux Mint 10 LXDE Edition di Netbook HP Mininote 2140
Perkembangan zaman, semua menjadi praktis
Aku terakhir kali dapet surat waktu SMP, dan sekarang udah kerja aja gitu gak pernah lagi dapet surat..
Klo menurut aku seh, shabat2 di media elektronik gak bisa disamakan dengan sahabat pena, seninya aja udah beda. Kalau menulis di kertas kita mikirnya serius coz gak mau salah dan capek2 nulis lagi. Kalau eletronik tinggal ketik2 kirim, klo salah kirim lagi
Apalagi kalau pakai tipex, kesannya malu2in terpaksa harus mengulang (sedihnya zaman doloe)
Saya sudah lupa kapan terakhir kali kirim surat persahabatan pakai kertas. Mungkin sudah 10 tahun yang lalu ketika saya berada di Kalimantan dan mengirim surat dan kartu ucapan Lebaran kepada teman saya di Jawa. Dan sejak adanya internet, email dan HP seperti sekarang ini kebiasaan itu sudah hilang.
Kalau saya berpendapat, baik antara Sahabat Pena era jaman dulu yang surat-menyurat pakai kertas maupun sekarang yang pakai kertas elektronik (paperless) sebetulnya esensinya seharusnya tetap sama untuk berteman juga (relationship), apapun itu medianya.
Dan jawaban saya atas pertanyaan “apakah pantas berkomunikasi melalui media elektronik disebut sebagai Sahabat Pena?” Selama esensinya sama maka jawab saya seharusnya tetap pantas asal nilai-nilai tentang persahabatannya tak berubah.
Benar juga mas, hanya berganti zaman. Trus namanya juga lebih baik diganti
klo dulu sahabat pena bisa bikin bagus tulisan tangan karena kita jadi rajin menulis, sekarang semua tulisan sama saja cuma beda fontnya aja, hehehe.
Semakin ringkas dan cepat
sekarang para sahabat pena berubah menjadi sahabat email atau bloggers..
waktu saya masih kelas 3 SD, waktu itu saya sempat belajar berkirim surat dengan sanak keluarga… baik dengan ditulis tangan, bahkan sempat juga mencicipi mesin ketik… tapi yah, seiring berjalan waktu, surat makin jarang kita temui. Bersyukurlah mereka yang pernah mencicipi indahnya menulis dan berkirim surat… bersyukurlah mereka yang pernah memiliki sahabat pena…
Itu pengalaman indah yang punya sahabat pena
Wah, ndak nyangka masih ada sahabat pena jaman sekarang.
Jaman dulu pun sya tak pernah mencoba mencari sahabat pena, apalagi skrang. Saya sendiri seperti bingung menyikapi jaman yang terus bergerak.
Ngga banyak sih, lagian kalau hanya dihitung2 kemahalan di biaya kirim
kurang pas rasanya kalau kita nyebutnya Sahabat Pena sekarang…itu kan udah jaman doeloe banget bang
out of topic:
jadi mengingatkan saya ketika masih SMP dulu, rajin menulis di kartu pos trus mengirimnya ke radio favorit hanya karena ingin membalas salam dari “sahabat”… akakakk…ah sudahlah
Wakakakak,….. ternyata dulu, tulis menulis banyak membuat kenangan
“apakah pantas berkomunikasi melalui media elektronik disebut sebagai Sahabat Pena?”
Wah! Kayaknya engga deh, kan nulisnya udah ga pake pena hehehe
Jadi inget, kemana ya sahabat pena saya dulu?!
lebih mahal dari biaya nge-net sejam, apalagi ke LN, huaaa nguras uang jajanlah pokoknya.
Boros deh klo sahabat pena-an, perangkonya mahal
btw, pak pos sekarang tugasnya sudah beralih fungsi
Klo dulu ngirim surat2 yang isinya curhat2 tapi sekarang surat2nya berisi tagihan ato promosi hehehe
Saya sudah sering mengajaknya untuk surat2an via email & social media, tapi toh dia tetap bersikukuh dengan surat. Tapi ya sudahlah, hobinya dengan pena

Kalau Pak Pos, sekarang ngga pernah ditungguin kedatangannya. Malah kalau bisa ngga usah ngantar, yang artinya tak ada tagihan
Dulu pernah sekali, dengan sahabat di pulau sebrang, tuker-tukeran foto, curhat curhatan, haha, jadi kangen !