Layang Layang Diantara Gelombang

Memandang langit pada saat ini hanya akan melihat awan putih dan birunya langit, tak akan ada fenomena lain selain pesawat yang melintas. Berkilas lima belas tahun silam ketika aku masih suka bermain kertas yang diterbangkan melalui benang.

Layang layang, dimana lagi kita bisa melihat anak-anak yang bermain layang layang? Hampir disetiap sudut kota saya tak pernah melihat layang layang diterbangkan, bahkan tak satupun pedagang layang layang muncul disaat musim panas tiba. Nah, sekarang zaman telah berubah sangat drastis, lebih canggih dan anak-anak tidak pernah doyan dengan sajian membosankan dari sebuah layang layang.

“Apa enaknya main layang layang?” Ini yang terucap ketika aku bertanya kepada mereka.


Bukan Sebuah Tradisi

Layang layang sudah ada sejak dahulu dan menjadi budaya di China. Waktu yang lama, hingga saat ini masih ada yang menggunakan layang layang sebagai hiburan. Mereka hanyalah “pecandu” atau malah seseorang yang menyukai tradisi dan budaya sehingga bisa tetap dipertahankan. Lalu, apa hubunganya dengan budaya kita yang saat ini memang sudah “terlanjur” luntur!

Satu dari sepuluh anak, mereka mengenal layang layang dan pernah menggunakannya bersama teman ataupun orang tua semasa liburan. Sejauh inikah tingkat pengikisan budaya yang terjadi, atau kita sebagai orang yang telah melewati masa itu membiarkan generasi kita tidak mengenal layang layang?

Disisi lain bukan hanya layang layang, tapi ada beberapa permainan tradisional yang turun temurun dimainkan bangsa kita telah raib entah kemana. Sebagai contoh permainan Ular Naga, Congklak, Bekel, Gasing, Galah Asin, dsb. Rasanya hanya beberapa detik dari kehidupan kita permainan itu hilang. Yang kita bayangkan bahwa sejak negara kita merdeka hingga lima belas tahun yang lalu permainan ini masih menjadi primadona anak-anak, berpuluh puluh tahun manjadi tradisi.

Gelombang Itu Memadamkan Budaya

Kembali aku memandang langit, yang terlihat hanya langit biru yang ditopang sebuah menara gelombang elektromagnetik. Sebuah penemuan yang mampu menghancurkan budaya, mengubah pola hidup manusia menjadi lebih mudah dan tanpa batas.

Menara GSM 224x300 Layang Layang Diantara Gelombang

Menara BTS yang tumbuh subur di setiap kecamatan

“Kalau mencari anak-anak bukan dilapangan, coba cari di warnet atau di Wifi spot.” Sebuah gaya hidup baru bagi anak-anak sekarang, mereka lebih gemar menghabiskan waktu luang dimesin mesin penjelajah dan dunia game yang semakin menantang. Warnet dan Wifi area telah menjamur disetiap sudut kota dengan tarif sangat terjangkau. Pola pikir telah berubah, bahkan sebagian mereka telah terbodohi dengan permainan konyol dan tidak mendidik.

Ide Baru Dibalik Gelombang

Adakah seseorang diantara kita pernah berfikir untuk melestarikan budaya dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik? Atau sebuah ide cemerlang untuk membuat permainan tradisi layaknya sebuah game online?

Sekarang ini hampir semua publisher hanya mementingkan keuntungan belaka, tidak mendidik, bahkan menjerumuskan penggunanya. Berhitung dari keuntungan yang akan diperoleh baik dari sisi publisher maupun pengguna akan lebih bernilai ketika kedua sisi mendapatkan manfaat besar dari program tersebut. Tapi siapa? Ini kan cuma mimpi kalau hanya diucapkan tanpa ada tindakan, peranan dan pengawasan pemerintah sangat dibutuhkan mengingat waktu lima belas tahun yang silam merupakan waktu tercepat dalam perubahan budaya.

“Bagaimana dengan sepuluh tahun mendatang?”

Inti Post:

    ww permainan traisional com, akibat game online telah menggusur permainan traisional, kenapa anak jaman sekarang ga suka main layang-layang, knapa anak skarang jarang main layang-layang, layang layang jaman dulu di china, layang layang ular,
Advertisement
18 Responses to “Layang Layang Diantara Gelombang”
  1. Lintang Hamidjoyo
    January 8, 2011 at 1:49 AM #

    Salam kenal mas, suatu kenyataan yang maya ya mas….

    • Kaget
      January 8, 2011 at 11:16 AM #

      Kenyataan, tapi inilah teknologi yang menggusur budaya.

  2. January 8, 2011 at 10:45 AM #

    Salam kenal

    • Kaget
      January 8, 2011 at 11:15 AM #

      Salam juga, makasih sudah mampir!
      ^_^

  3. January 8, 2011 at 11:01 AM #

    Nasib permainan anak-anak jaman dulu seperti layang-layang sepertinya sudah mulai ditinggalkan dan diambang kepunahan. Ini sama seperti nasib bahasa ibu (bahasa daerah) yang pelan tapi pasti juga mulai ditinggalkan para penuturnya. Karena banyak para orang tua yang mulai enggan mengajarkannya kepada anak-anak. Sedih saya kalau melihat dua kenyataan ini

    • Kaget
      January 8, 2011 at 11:14 AM #

      Kenyataan yg terus digerus zaman…..

  4. January 9, 2011 at 5:02 PM #

    gelombang teknologi virtual saat ini yang begitu dahsyat agaknya telah mengubah orientasi anak2 dalam bermain, mas. kenyataan ini mungkin ndak bisa dipungkiri, tergantung bagaimana kearifan ortu dan orang2 di sekeliling anak2 dalam menyiasatinya, semoga anak2 ndak sampai tercerabut dari akar budayanya.

    • Kaget
      January 9, 2011 at 9:55 PM #

      Benar mas Sawali, kenyataan ini memang harus kita terima. Hanya saja anak2 sekarang lebih sulit diminta waktu luangnya,.. hampir seluruh waktu yang tersisa dihabiskan didunia maya…

  5. January 9, 2011 at 9:08 PM #

    hhe… saya sering main layang2 dulu sob..

    • Kaget
      January 9, 2011 at 9:52 PM #

      Saya rasa dulu hampir semua anak2 pernah memainkan layang2. Tak seperti sekarang!

  6. January 9, 2011 at 10:34 PM #

    saya tau & pernah memainkan layang-layang, congklak (atau dakon, ya?), ular naga (dan ular tangga :D )… kalau Galah Asin, yang mana ya?
    salam kenal, mas :)

    • Kaget
      January 9, 2011 at 10:47 PM #

      Tiap daerah mungkin ada perbedaan sedikit dalam penyebutannya, tapi permainannya sama saja.
      Oh, ya… thanks sudah singgah….

  7. January 10, 2011 at 7:00 PM #

    Udah makin jarang aja ya Mas, ngelihat anak kecil berlarian mengejar layang-layang putus.

    BTS jarang ah, mutusin layang-layang, hehe…

    • Kaget
      January 10, 2011 at 11:41 PM #

      Sekarang malah ngga pernah liat sama sekali,… masih ada anak2 yang mengerjar layang2 putus?

  8. January 10, 2011 at 8:08 PM #

    Di antara syubhat yang mereka lontarkan adalah tidak wajibnya jihad ketika tidak ada khilafah.. ataupun pernyataan sekarang bukan lagi masa untuk berjihad sebab yang ada adalah memperbaiki generasi dengan membekali ilmu pengetahuan… lalu bagaimana membekali mereka dengan pengetahuan jika yang ada hanya main PB di warnet dsb :( poker di pesbuk :(

    • Kaget
      January 10, 2011 at 11:42 PM #

      Membekali anak2 dengan ilmu pengetahuan, tapi sekarang orang tua malah kewalahan, anaknya tetap online!

  9. January 20, 2011 at 4:48 PM #

    Di kosan lantai 2, ternyata teman – teman saya masih maen Layang – layang :-D
    Saya sendiri dan kawan2 relawan Rumah Zakat coba membudayakan Galah Asin dkk di Kegiatan Kemah Juara.
    Sayang hanya setahun sekali :(

    • Kaget
      January 20, 2011 at 7:41 PM #

      Nah, yang seperti ini memang jarang terjadi. Setidaknya kita ikut meramaikan tradisi agar tidak hilang begitu saja.

Leave a Comment

Comluv