Calo, mungkin adalah salah satu alasan mengapa kita enggan berhubungan langsung dengan instansi, atau lebih dari itu ‘yang sangat merepotkan’.
Mudik sudah menjadi kebiasaan kita setiap tahun, bahkan banyak yang ngotot tetap harus mudik walau pulang tak membawa duit. Mudik itu seperti sebuah musim yang datang setiap tahun dengan jumlah tak tanggung-tanggung yang tanpa sengaja menggerakkan roda perekonomian kelas bawah, diantaranya adalah Calo.

Calo ditengah arus mudik
Calo, Dimanapun Kalian Berada
Mungkin hampir semua dari kita pernah berhubungan dengan calo, seorang pemanjang tangan yang mengurus kepentingan kita menjadi lebih mudah. Calo ada dimana saja, bahkan kita sendiri pun pernah menjadi calo tanpa sengaja. Seperti membeli pesanan teman yang kemudian tidak mengembalikan sisa uang, itu juga disebut calo tapiĀ bukan sebuah profesi. Calo hanya sebuah profesi yang tidak memiliki izin resmi seperti seorang agency, tapi mereka menutupi kebutuhan hidup karena kurangnya kemampuan dan lapangan kerja.
Dan kita mulai berurusan dengan sebuah instansi dimana segala urusan itu terlalu dipandang merepotkan bagi kaum awam.
Mereka yang tidak terbiasa dengan sistem prosedure dokumentasi akan merasa bahwa persyaratan instansi sangat merepotkan. Padahal untuk saat ini pembuatan dokumen tidak bisa dianggap sebelah mata mengingat banyaknya pemalsuan, dan wajar kalau instansi kita mulai berbenah. Itupun tak keseluruhan proses menjalani prosedur yang benar, artinya masih ada kemungkinan dari pintu belakang.
Seperti pembuatan SIM, pembayaran pajak, dan pembelian tiket, adalah salah satu contoh lokasi pertumbuhan calo yang subur. Saat memasuki pintu gerbang kita sudah disambut senyum manis calo, alhasil banyak yang merasa risih bahkan ada juga yang berujung pemaksaan. Tak adakah cara yang lebih baik untuk mengamankan calo daripada harus menangkap dan memberi imbalan?
Atmaja, sebutan seorang yang berprofesi sebagai calo tapi tidak mau disebut ‘Calo‘. Dia lebih familiar mengenalkan profesi itu sebagai agency padahal tak satu izin pun diperolehnya. Dalam keseharian bekerja menggunakan pakaian rapi layaknya seorang marketing dan berbicara seperti seorang public relation profesional. Tak ada unsur pemaksaan dari kegiatan itu, hanya mengandalkan ucapan dan kepercayaan orang lain menggunakan jasa ‘calo’ dirinya. Tak heran banyak orang mempercayai dirinya sebagai agency, bukan seorang calo. Atmaja hanyalah sebuah gambaran seorang calo yang ingin mem-profesional-kan diri daripada terus dikejar-kejar aparat dan ditakuti pelanggan.
Calo Adalah Aset?
Apakah kita pernah berfikir berapa jumlah biaya yang dikeluarkan untuk masalah sosial, dan mana hasilnya? Anak jalanan yang menjadi beban instansi sepertinya juga tidak kebagian, terlihat jumlah mereka semakin banyak. Dengan menangkap calo tidak akan mengubah apapun, malah memungkinkan mereka bergeser ke instansi lain yang dipandang lebih aman. Sepertinya kita lebih doyan dengan istilah ‘menangkap dan melepas’ yang tak jauh beda dengan memelihara seekor ayam. Kenapa pemerintah tak berinisiatif dengan biaya imbalan (hadiah) penangkapan menjadi sebuah dana pembentukan karakter?
Seharusnya calo itu ditangkap, kemudian dibentuk karakter Atmaja sekaligus membuat mereka menjadi satu wadah atau badan usaha. Mereka adalah aset marketing yang mungkin bisa menghasilkan banyak pemasukan pajak.
Catatan penting untuk pemerintah-ku, dengan mendidik kelas bawah menjadi lebih profesional memungkinkan kita lebih cepat tumbuh dan berkembang. Bukan menghabiskan dana dengan membagikan uang bagi penangkapan calo!
Inti Post:
- calo adalah, apa yang harus dilakukan pemerintah untuk memberantas makelar yang tidak resmi/calo, calo ga laku, dokumentasi uang kaget, gambar lucu calo di pemerintahan, istilah menangkap, penangkapan calo sim, tangkap calo, tindakan profesional tapi tanpa perasaan,













sekarang juga nih lagi pake jasa calo buat ngurusin surat d*misili, abis ngurus sendiri ribet bin ripuh. baru di RT aja udah bolak balik, huh! calo minta 400rb, itupun sudah harus dapat ttd smp tingkat RW, jadi calo ngurusnya mulai kelurahan – walikota. mo gimana lagi?
bikin sim juga gitu, blogger padeblogan bilang cuma byr 70rb kelar sehari, tp suami kaga lulus2 tuh, kayaknya disengaja deh … kayaknya sih bakal pakai calo lagi nih, dan dengar2 bisa 500rb aja gitu? ckckck
eh blom kelar tadi. nah soal penangkapan calo2 ini, emang bisa???? bukannya calo2 ini kepanjangan orang2 di dalam sana? calo mah kata saya ga usah ditangkap juga bakal udahan, asalkan yg di dalamnya kerja bersih. caranya?
urus ktp misalnya, klo bukan ybs yg datang, jgn diurus, coba, apa calo masih laku? jadi wajib ybs yang ngadep, pastilah calo bakal ilang dari peredaran. cobain deh
Ah, ngga juga Mbak. Ngurus SIM & KTP di kota saya aturannya mesti ngadep orangnya langsung. Nah sekarang, malah ngga ilang calonya.
Kalo menurut saya sih, pemerintah lagi berusaha ngelakuin apa yang bisa dilakuin. Karena “anggep aja” belom bisa membersihkan dalemnya, maka sementara ditindak dari calo nya dulu. Dengan harapan meski orang dalem ngasih kesempatan, tapi ga ada yg mau nyaloin lagi, mungkin gitu
Mungkin dan bisa jadi. Tapi menurut saya ngga akan berdampak banyak, lagian siapa sih yang mau nagkep calo? Banyak yang butuh sekarang, paling juga aparat yang sering uber2
Eh, berarti aku skrg calo dong yak! Banyak yg minta beliin aku tiket Herry Potter. Sayangnya aku gak ambil untung
Calo yang merugi, setidaknya sebatang cokelat
CALO!! demi pulang kampung saya rela berurusan dengan calo,,
salam kenal dan salam sukses gan,,
Saya pun terkadang begitu, ketimbang harus ikut antrian ngga jelas
bener sekali pak,,
kalau dikelola secara profesional mungkin citra “calo-calo” tidak seburuk yg dikira ya.
Kemungkinan, dan semua harus dicoba daripada membagi2 kan duit.
Adanya calo lebih karena kurang beresnya atau kurang nyamannya sebuah pelayanan yang diberikan oleh sebuah instansi atau penyedia jasa tertentu.
Yup bener itu, kadang2 doukumen dibiarkan terlantar di meja mereka berhari2.
Susah mah memberantas calo.

Jumlahnya gak sebanding dengan aparatnya
Lagian sepintar2nya aparat, calonya lebih pintar mas
Hehehe,…. iya. Nah, kalaupun pemerintah menginstruksikan tangkap ‘calo’, siapa yang mau melapor? Toh banyak dari kita masih butuh calo kan?
kalau saja pelayanan di kantor terkait cukup memadai, mungkin seseorang juga tidak akan menggunakan jasa calo.

Sekarang ada berapa instansi yang memadai? Belum ada kan?
Seperti pisau bermata dua. Satu sisi sangat membantu namun di sisi yang lain bisa menimbulkan kecemburuan sosial. Aku sendiri menggunakan standard ganda dalam menilai faedah dan kegunaan nya seorang calo. Di kala aku membutuhkan bantuan nya, uanag gak masalah asal beres. Namun saat ada waktu dan bisa mengurus sendiri tiba-tiba di serobot oleh calo yang main slonong saja, perasaan jadi seidkit mau muntah
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
Kalau kita butuh malah nguber mereka, Mas. Tapi kalau lagi ngga ada duit memang kesel di tempel terus ama calo. Seperti sekarang butuh duit lebaran, antrian sampai malam juga ditungguin daripada pakai calo
sekarang kan udah keluar keputusan bagi siapa yang menangkap calo dapat imbalan 500 ribu..mungkin dengan cara itu orang2 yang menjadi korban calo dapat melaporkannya. Selain dapat hadiah, jumlah calo pun bisa
berkurangBerani jamin?
Siapa yang mau melapor? Banyak yang masih butuh jasa calo apalagi menjelang lebaran.
tak bisa dipungkiri sebenarnya adanya calo terkadang membantu dan terkadang tidak, tapi rasanya calo2 kelas bawah di terminal, stasiun, dll itu sulit akan hilang dari indonesi karena mereka hanyalah “ranting” saja, yang harus di jadikan calo profesional terlebih dahulu adalah yang di kantor2 pemerintahan karena mereka menjadi pejabat dari rakyat.
Calo ngga akan tuntas sekalipun diberi iming2 hadiah penangkapan.
Kalau oknum ‘ranting’ biasanya terjadi diantara pegawai, bukan pejabatnya.
Menurutku kehadiran calo bukan masalah. Memang banyak kok orang2 yg tidak suka ribet2 berurusan panjang lebar, termasuk saya. Jadi kalau saya masih ada cukup uang, saya memilih calo. Tapi kalau urusannya jg tdk ribet, ya mending urus sendiri saja. Hemat
Apalagi sekarang Mbak, mengurus apapun di instansi agak sulit. Alasannya karena menjelang lebaran, alhasil minta tips lebih. Kalau begini mending pakai jasa calo kan?
Memang lebih tepat untuk memberikan bimbingan kepada para calo sehingga bisa berlaku secara profesional menjadi agen. Resmi dan tidak sembarangan. Namun akan lebih baik lagi kalau pemerintah memperbaiki kinerjanya sehingga urusan jadi lebih mudah dan lancar mengurus sendiri.
Menunggu pemerintah memperbaiki kinerja? Itu kan yang di elu2 kan sejak awal reformasi, nyatanya sekarang cuma sedikit berubah dan ngga merubah apapun selain kenaikan gaji mereka
Calo = Makelar = Broker.
Keberadaan calo memang bisa mengesalkan apalagi mereka sampai mematok harga yag jauh lebih tinggi dari harga resmi, sebenarnya perlu dididik dan dikasih naungan biar lebih teroganisir.
Contohnya broker, mereka juga calo tapi lebih teroganisir.
terorganisir lebih efisien bang, harga sama, dan pastinya keluhan bisa didengar melalui protes ke wadahnya
Memang diperlukan kebijaksaan yang baik dalam pengambilan keputusan.
Semoga pemerintah bisa menjadi pemerintah yang bijak
Keputusan mesti hati2 sebelum menjadi kebijakan. Smoga saja pemerintah bisa lebih bijak.
sebenarnya bukan salah calo juga sih mas.. tp mereka ttp menjadi calo karena ada yg membeli barang yg mereka tawarkan.. coba kalau semua orang mau antri dalam membeli sesuatu dan tidak menggunakan calo, pasti calo akan hilang dengan sendirinya
Calo ngga salah, dan ngga beda dengan yang namanya Agency. Tapi kebiasaan kita yang sulit dihapuskan “males ngantri”. Apalagi menjelang lebaran, saya sendiri ngga rela dihabiskan waktunya seharian.
Salam Takzim
Saya termasuk yang paling tidak menyukai dengan profesi ini, walaupun harus antri dalam segala urusan namun saya mampu memberikan kepuasan terhadap batin dan jiwa.
Selamat malam bang
Salam Takzim Batavusqu
Bener itu mas, apapun yang kita kerjakan dan selesai pasti ada rasa ‘puas’ yang tak tergantikan
Pemerintah hanya peduli ama maling kelas berdasi. . .
Ckckckck
ada gula ada semut mas…
kalo ada calo semua jadi cepat, tapi disisi lain juga ada faktor yang sedikit memberatkan.
Memberatkan disisi keuangan tentunya
calo=makelar=perantara dan saya juga menjalani profesi ini kadang dan saya suka lho…yang penting networking luas, hehehehe
Calo mempermudah konsumen, tapi kurang suka kalau calo udah kasih harga yang gak masuk akal.
Not bad at all asal jangan calo yg di immigrasi itu….”kalau lewat calo 3 hari, kalau mbak urus sendiri bisa 2 minggu” begitu kata petugas immigrasi #garukgarukkepala
Walah, ko’ malah petugasnya yang menganjurkan.
Keliatan beberapa instansi kita masih kelihatan bobrok dan tampaknya juga dibiarin tanpa pembenahan
pemikirannya boleh juga,
ini seperti halnya memberikan lahan yang memadai buat pedagan kaki lima ketimbang asal menggusur saja. begitu ya kira2?
Kira2 begitu, jadi pemerintah jangan cuma tangkap dan bakalan ngga merubah apapun
Saya sudah entah berapa kali berurusan dengan calo. Seingat saya waktu mengurus SIM, mengurus passport dan KTP di kelurahan. Lucunya, yang jadi calo justru petugasnya sendiri. Ya, bagi kita yang sibuk dan tak mau ribet apalagi dibikin ruwet pakai calo adalah pilihan.
Hehehehe….. ngga heran mas, calo itu adanya diseputar dinas. Kerabat atau malah petugas sendiri, apa gaji mereka masih kurang gede ya?
Assalaamu’alaikum wr.wb, Kaget…
Calo atau perantara yang tidak sah atau illegal seperti yang ditulis ini merupakan satu fenomena baru bagi saya. Saya tidak pernah bertemu dengan kondisi ini ketika berurusan di mana-mana di Malaysia. Iya.. mungkin ada tapi dalam jumlah yang sedikit atau kegiatannya tidak terlihat nyata sebagai seorang calo.
Kemelesetan ekonomi dan kurangnya pekerjaan untuk meningkatkan daya sumber dalam apa jenis perusahaan telah membawa hal sebegini terjadi kerana harus mencari pendapatan buat bekal hidup. Apa sahaja kerja yang bisa mendapat uang tentu akan diusahakan walau hanya sebagai calo. Menurut saya, jika bisa dilakukan sendiri segala urusan adalah lebih baik dari mengupah calo kerana kita akan membiasakan mereka mencari uang dengan cara ini.
Saya setuju dengan Kaget bahawa pihak pemerintah sepatutnya memikirkan usaha dan bertindak secara wajar dalam memanipulasikan bakat dan potensi seorang calo bagi meningkat ekonomi negara.
Selamat menjalani ibadah puasa di bulan mubarak yang mulia ini.
Salam Ramadhan dari Sarikei, Sarawak.
Trima kasih Bunda.
Negara kami memang butuh banyak perbaikan, dan ini semua terjadi karena kurangnya lapangan kerja. Tapi cara itu tidak buruk, hanya butuh peng-organisasi-an agar lebih teratur.
Selamat beribadah dibulan yang penuh berkah Bunda, semoga kita semua bisa mejalaninya hingga akhir ramadhan
pemerintah kehabisan akal kali..hahaha
Ko’ bisa ya. Padahal anggota DPR rame, bukan hitungan jari.
Yang lainnya pada mikirin apa?
Xixixixi…. tapi gini2 saya pernah juga pake calo. Contohnya:
1. Pas buat SIM
2. Beli tiket kereta
3. Perpanjangan pajak motor
karena ribet dan males ngantre.
Mungkin kalo pemerintahnya udah berbenah dan lebih tertib administrasinya, calo bakal gak laku.
Ngantri itu capek, udah nunggu lama trus katanya dokumen ngga lengkap. Mending calo kan?
mungkin karena adanya sistem yang kurang bagus, jadinya calo masih bisa merajalela, apalagi sekarang saat2 akan menjelang hari raya idul fitri, yang mungkin merupakan kesempatan besar bagi calo.
Bukan kesempatan besar, tapi memang sudah terencana setiap tahun adanya Calo
terkadang jika situasinya lagi pas calo bisa sangat bermanfaat
*malesngantri…