Dari dulu saya ingin sekali mengungkapkan prihal yang satu ini. Banyak orang mengatakan bahwa pekerjaan sebagai Marketing itu hanya menghabiskan banyak uang termasuk uang pribadi, atau sering didengar ucapan “Marketing itu pemboros”. Bukan hal aneh memang ketika kita terjun ke dunia bisnis memerlukan banyak servis, bahkan banyak dari kita sebagai seorang marketing tak segan mengeluarkan dana pribadi demi pelanggan tercinta.
Oh ya, pada saat sebuah skenario dimulai, disinilah peran marketing mulai melakukan aksinya. Sejauh mana dana segar yang dikucurkan perusahaan terhadap pelanggan, mungkin sebagian diberikan batasan pengeluaran untuk pelanggan tersebut. Hitung-hitung keuntungan yang diperoleh mungkin tidak sebanding dengan servis kepada pelanggan. Loh, apa dampaknya? Mungkin tidak sekarang dan bisa saja manfaat lebih yang diperoleh melalui sisi lain, misalnya link network yang dimiliki pelanggan berpotensi lebih besar daripada pelanggan itu sendiri, atau malah kita akan menuai keuntungan dalam beberapa bulan kedepan melalui pelanggan tersebut.
Bercermin Bahwa Marketing Itu Pemboros
Seperti layaknya seorang wanita berias dengan segala makeup didepan sebuah cermin, apa yang kita lihat? Bukan memuji diri sendiri tetapi menilai potensi besar yang dimiliki ketika seorang marketing bercermin. Marketing membutuhkan banyak perangkat, termasuk dandanan yang ‘wah’ sebagai salah satu daya tarik tersendiri. Tingkatan ini dibutuhkan lebih dari sekedar cukup dibanding profesi lainnya. Lantas, dari mana datangnya dan tersebut jika seorang marketing membutuhkan dandanan ‘wah’? Tak semua marketing diberikan dana insentif khusus yang satu ini, tetapi bisa dikatakan mereka merogoh kocek sendiri walaupun gaji dan bonus harus dihabiskan kedalamnya. Belum lagi ketika pelanggan mengundang kita kedalam acara pribadi, setidaknya marketing tidak menutup muka untuk berpartisipasi.
Mulailah Menghitung
Banyak marketing tidak sadar hingga beberapa tahun menjalani profesi ini tetapi hidupnya masih belum berubah sama sekali. Marketing pemboros, tak pernah menghitung berapa nilai lebih yang akan diperolehnya, atau bahkan itu merupakan sebuah hobi yang benar-benar tak mementingkan nilai lebih yang akan diperoleh. Menghitung bukan berarti ‘hemat’, tapi memperhitungkan dengan benar pengeluaran kita terhadap hal-hal prioritas. Kebutuhan dandanan tidak setiap bulan harus dibeli dan cermati pelanggan mana yang harus kita berikan servis lebih diluar jam kantor. Jika tidak, maka kita benar-benar salah dalam memproyeksikan diri. Profesi itu adalah sebuah jalan kehidupan yang akan menghidupi kita dimasa mendatang.
Inti Post:
- tugas marketing restoran, bergelut di dunia marketing perbankan, tugas marketing perbankan, tugas marketing restaurant, tugas seorang marketing restaurant,












