Kapan kau harus menjadi pria berdasi dengan beban pekerjaan yang ringan dan waktu yang nyaman?
Apakah kau merasa bangga dengan kantor yang tinggi menjulang, mewah dan berlokasi elit di tengah kota? Sebagian besar berjuang keras walaupun harus dengan adu tanduk dengan pria berdasi lain, menggeser, dan yang ‘mati’ karir bersiap melonggarkan dasi mereka.

Perkantoran Elit (Ilustrasi by Vegadsl, Freedigitalphotos)
Tidak bagiku, pekerjaan kantor yang membebani hingga pulang kerumah hanya akan membawa bencana dengan serangkaian tugas dan tekanan yang tak kunjung reda. Aku bukan satu-satunya orang yang mengistimewakan kebebasan bekerja, ada banyak orang yang menginginkan pekerjaan kantor dengan hasil memuaskan tapi tidak disertai tekanan. Kau membenci atasanmu? Bukan itu alasannya, tapi pada dasarnya kau memang tak suka hidup didalam tekanan. Jadi, berfikirlah sebelum berganti haluan.
Pria Berdasi Butuh Pekerjaan Ringan
Menurutmu, ada berapa orang yang menyurakan kalimat diatas? Karir tenggelam di usia 35 tahun atau mahasiswa yang mengharapkan karyawan kontrak? Menginginkan pekerjaan kantor tanpa tekanan akan membuat mereka hidup lebih tenang, tapi dimana kau bisa memperolehnya saat ini? Dan hampir semua perusahaan di Indonesia mengejar target untuk bisa tetap hidup ditengah persaingan yang semakin ketat.
Kita bukan bangsa pemalas, jadi jangan pernah berfikir sebagai atasan untuk menimpakan semua pekerjaan kantor yang seharusnya kau ikut didalamnya. Keluhan, cuma itu yang akan menjadi dilema karyawan dengan beban tugas menumpuk, gaji tak kunjung naik, dan karir mati ditempat. Kalau kau bersikukuh untuk tetap mendapatkan pekerjaan kantor yang ringan, adu tanduk diantara pria berdasi bukanlah hal yang mudah.
Pria Berdasi Elit Diantara Perusahaan
Pria berdasi bangga ketika bekerja diantara gedung-gedung tinggi ditengah perkantoran elit pusat kota, itukah impianmu? Oh ya, kau yang baru selesai menyandang gelar sarjana jangan terburu-buru mengejar kursi pria berdasi, yakinlah tempat itu bukan surga dunia tapi hanya akan membuat hidupmu sengsara.
Bagi sebagian orang, memilih kantor kecil dengan jumlah karyawan kurang dari lima puluh orang adalah pilihan tepat untuk menjejakkan karir. Semisal kantor cabang, dengan jumlah karyawan sedikit maka kemungkinan tekanan pekerjaan kantor tak seberat perusahaan elit. Kemudian disana masih ada rasa kekeluargaan yang mendalam, aturan yang tidak menyesakkan nafas, dan diantara pria berdasi lebih membentuk team professional. Kalau kau menemukannya didalam perusahaan besar, itu sebuah keberuntungan karena pria berdasi akan tetap membuat ‘adu tanduk’ didalamnya.
Apa yang kau kejar didalam gedung perkantoran elit itu? Padahal jaminan sosial perusahaan di indonesia hampir sama, gaji yang hampir sama, hanya saja kursi untuk pria berdasi lebih banyak disana.
Ternyata banyak orang ingin menyandang gaya dan modis dibalik gedung perkantoran elit dan mewah, tapi banyak juga yang mengeluh karena gaji tak setimpal dengan beban pekerjaan pria berdasi.
Inti Post:
- PERKANTORAN ELIT, gambar latar belakang perkantoran, karir untuk umur 35, buruknya kinerja karyawan bergaji tinggi, pria berdasi, penampilan pria berdasi, filosofi pakai dasi, filosofi dasi, orang berdasi keren, orang berdasi, tekanan kerja kantor, negosiasi gaji saat wawancara kerja, merubah karir di usia 35, mengapa anda memilih menjadi pegawai kantor bukan guru sesuai pendidikan anda, mengapa anda memilih menjadi pegawai ?, memilih pekerjaan kantoran, memilih karir di usia 35 tahun, orang kantoran berdasi, orang yang bergelar sarjana belum tentu pintar, tekanan dikantor *tuhan,













Pendidikan bicara dalam masalah ini bang. Kebanyakan perusahaan disini masih melihat gelar dibelakang nama seseorang. Semakin berkelas gelarnya, semakin tinggi dan enaklah posisinya. Padahal orang-orang bergelar belum tentu lebih pintar.
Siapa bilang pendidikan menjadi latar ‘gaji gede’? Banyak yang kuliah tinggi tapi masih belum bisa dapet dasi
sangat bagus sekali artikelnya
Tips Blogging Posting Terakhir..Menjadi Blogpreneur
aku setuju ttg memilih kantor cabang dgn pekerja yg sedikit saja. Sama alasannya dgn pilihanku tidak melanjutkan ke univ no satu Jepang, melainkan memilih yang nomor 5 saja
Univ no satu lebih berat ya Mbak, padahal bisa tidaknya tergantung mahasisa/i yang menjalani
hmm.. saya kok rasanya ga ada minat yah untuk bekerja di gedung2 itu sambil berdasi,, hehe
enakan berwirausaha sendiri ya pak..
Syukurlah kalau tak ada minta
Saya Rasa Gaji Itu lebih dari segalanya
Bener, memangnya kita mau makan beton di gedung itu
wahh..bener mas….
sampai sekarang saya masih memimpikan punya usaha sendiri, gak perlu kantor dan bangunan yang megah..atau pegawai yang banyak..
yang dibutuhkan hanyalah jiwa-jiwa kreatif dan inovatif… serta komitmen dan kesungguhan….
Nah itu, jiwa usahawan yang harusnya kita perbanyak. Bukan menjadi karyawan dikantor elit
Saya malah gak pernah sukses saat berada di lingkungan kerja yang katanya basah dan empuk. Kerasannya malah di lingkungan2 gersang sehingga beberapa teman lebih seneng menyebutku sebagai relawan ketimbang pekerja.
Kek pilihan saya menjadi guru swasta di sekolah dasar swasta yang sempat ditertawakan oleh beberapa temen.
Nah, justru sekarang mencari yang unik hingga dikenal banyak orang, bukan mengikuti trend dasi yang sebenarnya lebih kejam daripada menikam punggung
Kalo saya lebih pengen jadi pengusaha aja deh..
Siip, saya juga pengennya begitu
Do’ain nanti saya bisa jadi pengusaha yang sukses ya om
Amiin… Kalau sukses saya juga senang, nantinya ada cerita bahwa “saya sering ngobrol diblog bersama pengusaha sukses itu”
itu yg saya alami beberapa waktu lalu mas.. kerja di gedung mewah berlantai 7 tp malah romusha… enak sekarang kerja jadi buruh tp enjoy aja hehehe
Angkat cangkul juga enak Mas, duitnya juga banyak ko’
Capek naik turun tangga deh kayaknya kalo kerja di gedung bertingkat #eaa
Kalau saya dulu capek rebutan lift yang sore hari sudah bau asem semua
belum pernah ngalami kerja di kantor yang tinnggi menjulang menantang langit dan memakai dasi. baru sebatas buruh rendahan. tapi aku enjoy, dan itulah yang terpenting menurutku, bisa menikmatinya
Hidup itu bukan mengejar jabatan, tapi mengisi lambung dengan fikiran tenang
kalo aku inginnya sih menjadi pengusaha saja. walaupun hanya memiliki satu orang pegawai, yaitu diri sendiri, tapi memiliki kebebasan dan tidak ada yang mengatur jam berapa harus ngantor dan memulai aktifitas kerja
Oh, bagus itu dan pertahankan. Rezeki semuanya diatur Tuhan
Orang2 berdasi yang kerja di lapangan juga banyak kok. Mereka bahkan lebih capek daripada yang ada di kantoran. Kejar target, kejar setoran adalah aktivitas utama mereka. Soal gaji, barangkali kalah jauh dibanding yang cuma duduk di belakang meja.
HALAMAN PUTIH Posting Terakhir..Bukan Milikku (Puisi Rendra)
Tentunya marketing yang menjadi ujung tombak tak pernah betah dikantoran, ngga seperti mereka yang berdasi dan duduk seharian dibelakang meja.
Aku gak pengen kerja kantoran di gedung menjulang gitu..hehe
takut gak bisa pulang soalnya.hehe
Pobia atau bingung nyari ruangan?
Yaaa mau kerja kantoran yg rada ringan kerjaannya ya jadi pns aja kayak aku :p
tapi jangan berharap gaji besar.. coz pns gak bakalan bs kaya.. Kecuali semacam gayus
))
Ah, Nie…. ngga kepikiran kan mengikuti jejaknya?
Assalaamu’alaikum wr.wb,mas Kaget…
Hadir untuk menyapa bagi terakhir kalinya sebelum mengundur diri dari keindahan persahabatan di maya. Saya sangat menghargai segala sapaan dan silaturahmi selama kita bersama.
Kita hanya bertemu lewat catatan di poskad kenangan. Hanya memandang kaburan wajah di potret khayalan. Hanya mengetik huruf-huruf di tinta minda. Maafkan saya lahir dan batin jika…. pada tutur kata yang sesekali mencalar hati dalam penulisan dan pendapat diberi.
Semoga Allah selalu memberkati persahabatan yang terjalin baik ini. Sebuah KENANGAN TERINDAH akan menyusul dalam diari kehidupan kita sebagai satu ikatan yang tidak bisa terlerai, andainya pertemuan itu bukan lagi milik kita. Doakan saya dalam kehidupan ini di dunia dan akhirat. Aamiin.
Salam mesra penuh ukhuwwah berpanjangan hingga ke akhirat dari saya Siti Fatimah Ahmad, Sarikei, Sarawak.
Waalaikum salam Bunda Fatimah.
tentunya ini bukan berita menggembirakan kalau blogger menyatakan undur diri. Menulis itu ngga ada keharusan, kapanpun kita mau dan tidak ada batasan.
Harapan saya blog Bunda tidak dihapus agar menjadi kenangan bagi rekan dunia maya
karyawan di kantor teman saya resign. karyawan itu memilih pindah kerja di kawasan perkantoran elit di pusat kota dengan gaji yang sama dengan kantor milik saya ini.
kenapa? karena kantor perusahaan teman saya tidak berada di komplek perkantoran elit. si karyawati merasa ngga gengsi kerja di kantor teman saya ini meskipun gaji dinaikan “D
Ternyata tekanan didalam gedung indah itu sangat memberatkan ya, jadi sebenarnya kebanyakan dari kita masih banyak yang tak butuh gengsi
Kalo di Australia, aku bersyukur kerja di perusahaan besar krn selain jaminan lebih bagus, untuk melangkah ke jenjang karir di atasnya lebih enak lagi…
Enak ya Om, saya jadi ngiri
Nyesek deh, kerjaan berat tapi gaji dikit. Itu kayak ditimpuk sendal carv*l yang baru.. *?*
Memangnya udah nyobain, atau sering ditimpuk sendal
Artikel yang menarik nih, memang usia 35 itu usia di persimpangan. Timbul keragua2an atas pekerjaan yang telah dielwati, contohnya saya, ha3..
Sebuah pilihan, terus berkarir atau beralih menjadi usahawan?
Less is More.
Adakalanya dgn karyawan sedikit itu akan lebih efektif, dan banyak perusahaan kelas dunia yg menerapkan hal tsb.
Apalagi sekarang sudah jaman digital, karyawan banyak cuma menghabiskan biaya
orang berdasi kadang cuma keren di penampilan.. eh ga taunya copet? who knows?
Hihi,… seperti yang di angkutan umum itu ya, bawa tas isinya dompet orang melulu
Hihhii… makasih2
kata mereka yang pintar, solusinya adalah jadi pengusaha
.
Sedang dipertimbangkan, Mbak
betul sekali. urusan kenyamanan ketika bekerja itu paling utama. urusan gaji itu nomor sebelumnya.
Gaji gede tapi ngga nyaman, tidurpun susah
Ada yang bilang kalau kau jadi ikan besar sebaiknya Anda berada di kolam besar supaya potensi Anda terus berkembang. Atau lebih suka menjadi ikan besar di kolam kecil saja supaya Anda terus tampak besar diantara kebanyakan ikan kecil lainnya. Ini masalah pilihan, sih.
Soal berdasi itu juga pilihan. Di kantor saya juga semua pakai dasi tapi saya lebih senang berpakaian casual dengan celana jean aja. Lebih santai.
Bener itu Mas, jadi jangan memasakan diri karena modis di kantor elit, pahami kualitas dan pilih yang tepat. Ada juga sih aturan yang ngga begitu mengikat, ditempat saya juga begitu. Disarankan berdasi tapi juga atas pilihan karyawan mau atau tidak
saya baru yoba nih kerja di gedung tinggi. baru masuk kerja juga…
Mudah2an bisa betah dan ngga saling tanduk
perusahan2 bonafit Indonesa sgt butuh atasan seperti anda mas..
Ngga ah, saya wirausaha aja
Saya mungkin tergolong yang kurang suka kerja kantoran. Lebih sukanya yang mandiri saja. Tapi setiap jenis pekerjaan tentunya punya sisi positif dan negatif tersendiri. Tinggal bagaimana kitanya saja yang berusaha menyesuaikan dan menjadikannya terasa enjoy.
Dunia pendidikan dan juga latar belakang keluarga ikut berpengaruh dalam membentuk cita-cita seseorang tentang pekerjaan impiannya. Termasuk (mungkin) filosofi etnis dan darah keturunan. Salah satu contohnya yaitu orang-orang berlatar etnis Cina yang kebanyakan lebih suka berwirausaha ketimbang bekerja kantoran.
Kalau di daerah saya, orang-orang berlatar etnis Melayu cenderung ingin (bercita-cita) menjadi pegawai negeri, terutama guru (yang sekarang jadi incaran karir favorit karena setiap penerimaan PNS ternyata banyak sekali memberi kuota untuk profesi tersebut)
Oh iya, kebanyakan pribumi ngga begitu gigih soal urusan menjadi pimpinan. Katanya relasi bisa menjadi kuat kalau dipegang etnis china. Sebenarnya ini salah persepsi, siapapun yang punya kualitas pasti dilirik relasi untuk tetap menjalin hubungan bisnis. Jadi, ngga heran kalau orang kita lebih banyak memilih jalan pintas menjadi PNS yang sebenarnya saya kurang setuju dengan kinerjanya.
kalau saya sih lebih milih profesi atatu pekerjaan yang membuat saya nyaman dalam menjalaninya…
Kita butuh uang, tapi bukan tekanan
tapi kalau kerjanya enak, lingkungannya menyenangkan, dan hasilnya memuaskan..gimana mas….
Sempurna..
Sangat mencerahkan, Bung. Ya, terkadang kita terjebak pada gengsi sehingga rela terpenjara di jeruji besi bernama kantor dan jam kerja. Meski tampil rapi sepanjang hari, tetap saja statusnya kuli nan makan hati. Salam kenal.
Pengalaman pribadi tho? Saya juga begitu dan menyakitkan, akhirnya memilih jalan sendiri untuk berwiraswasta
Karyawan berdasi belum tentu bergaji tinggi. Anda lihat karyawan Freeport? Tapi kalau yang gerah karena gaji tidak sesuai dengan beban pekerjaan sih banyak (saya salah satunya kali..)
Bagi orang2 yg masuk kategori tadi kayaknya pindah majikan menjadi sesuatu yg urgent. Atau bahkan banting stir, ganti kerjaan.
Hehe,… banting setir juga perlu mikir berkali-kali, contohnya saya yang sempat ringsek
kalau ngeblog aja bisa jadi pilihan gak ya mas hehehe
hehehe sangat dilematis sekali membacanya..seperti itulah yang dirasakan saya kini
mau nyari kerjaan yang lebih baik dipikir-pikir koq sama aja ya pasti ada tekanan disana..mau berwirausaha masih bingung mau mulai dr mana 
Kalau banyak warisan ngga perlu bingung, ko’….
yang sering pusing biasanya yang ngga punya apa, dan berjuang di dunia bisnis yang memang saling tanduk
hehehe ortu saya masih ada
saya gak mau nungguin warisan wkwkw