Banyak orang hanya bisa menikmati nasi sebagai bahan pangan sehari hari, tapi mereka tidak pernah menyadari bahwa sepiring nasi membutuhkan tangisan seorang petani. Kalau dulu pada masa pemerintahan Soeharto, negara kita mampu mencukupi kebutuhan bahan pangan dan petani pun tak pernah merasa kesulitan dalam mencari pupuk & obat tanaman.
Kita lihat sekarang, sungguh hal yang sangat memilukan ketika seorang petani mengeluhkan hasil panen mereka. Bahkan ditempat saya bermukim banyak petani yang menanam dengan dosis pupuk seminimal mungkin demi mendapatkan keuntungan maksimal. Bukan berarti bahwa menanam harus dengan pupuk, tetapi daya beli yang serba kekurangan memaksa mereka untuk melakukannya. Tak heran negara kita sampai saat ini masih mengimpor beras dari negara tetangga.
Permainan Harga
Kondisi yang terjadi saat ini, pasar yang tercipta bagi petani sangat beragam. Banyak jenis pupuk dan obat obatan yang berasal dari luar negeri, tak kalah dengan dalam negeri yang menciptakan produk sejenis dengan harga terjangkau. Melihat kondisi seperti ini, apakah akan terjadi kembali saat kita mengisi kebutuhan beras dalam negeri? Sementara harga dan persediaan sering kali melonjak bahkan produk hilang dari pasaran. Sebuah permainan harga yang berujung pada tangisan petani.
Inilah sebuah bisnis yang menggiurkan, sehingga banyak pengusaha luar dan dalam negeri berpacu dalam menyediakan produk pertanian yang kian melonjak. Disaat mereka membutuhkan maka disaat itu pula produk hilang yang mengakibatkan harga melambung, sementara petani harus tetap mempertahankan apa yang telah mereka tanam.
Lintah Di Tanah Garapan
Pernah saya mendengar, ketika seorang petani tak mampu membiayai sawah mereka yang telah digarap akibat lonjakan harga pupuk dan obat obatan, disaat itulah lintah di tanah garapan menghampiri mereka dengan menawarkan beragam perjanjian yang menguntungkan. Dengan alasan bahwa hasil yang mereka peroleh setidaknya mampu mengembalikan investasi yang ditanam oleh petani. Mereka mampu menyediakan pupuk disaat produk hilang dari pasaran.
Sebenarnya, mereka ini koperasi atau malah sekelompok penimbun pupuk? Saya tak menganggap petani kita masih tergolong ‘bodoh’ atau mereka telah di ‘bohongi’ oleh pengusaha ini. Kalau memang produk hilang, mengapa sangat mudah mendapatkannya hanya dalam hitungan jam? Keuntungan besar pastinya menanti mereka, sementara petani hanya mendapatkan investasi awal yang mereka tanam.
Bisnis Itu Menghalalkan Berbagai Cara
Mengahalalkan berbagai cara, tanpa hukum yang pasti, dan mungkin tak terendus petani motif dibalik usaha mereka. Satu hal yang saya sangat tidak setuju ketika bisnis harus menyakitkan bagi sebagian pihak. Atau mereka malah mengatakan:
“Anda tak berfikir, maka Anda akan tertidur dari peluang besar diantara petani.”
Inti Post:
- petani dan sawah, obat untuk tanaman padi, petani menanam sawah, petani dan padi, lukisan panen padi minimalis, macam padi cere, permainan petani, PERLUKAH PUPUK DITANAH BERPASIR, bagaimana cara petani mendapatkan investasi, obat padi, investasi petani, foto sawah dan petani, beli benihpadi deliserdang, produk hilang di pasaran,














petani teman main nya emang padi,…
cz sehari-hari petani sellalu bersama dngn padi,..
hhe*
Kemudian kita bicara ketahanan pangan, strategi pangan. Kita seolah lupa bahwa di negeri maju pun petani disubsidi supaya mereka tetap menanam, karena pertahanan akhir selain energi adalah pangan. Kita? Biarlah para pengekspor beras yang melakukan forecasting berapa kebutuhan Indonesia selama lima tahun. Itu pun dengan catatan kalau ada`kekacauan klimatologis sehingga produksi mereka menurun maka menahan beras adalah langkah wajar. Dan hari-hari ini kita hanya takjub melihat Bulog mencoba merealisasika kebutuhan beras dengan menantikan kedatangan kapal demi kapal. Soal gula pasir? Anda lebih tahu…
Makasih tambahannya mas Tyo. Bicara soal ketahanan pangan, negara kita terlalu besar dengan jumlah abdi yang terbilang kecil. Tak digubris,… nikmati hasilnya ditahun tahun mendatang!
Kasian ya petani sekarang harus susah payah, padahal sudah bekerja keras menutupi kebutuhan beras kita!
Inilah negara kita, aneh ya? Padahal negara agraris!
Oh ya, semakin sulit mereka juga terbebani hutang dengan pembelian pupuk yang sangat mahal
untuk menanggulangi kelangkaan pupuk kimia, kita kembali lagi aja kealam ( menggunakan kompos, pupuk kandang, daun2an, air seni, tinja, kulit padi) bagaimana? selamat tinggal bahan sintetis (pupuk kimia).