Terbang diberbagai sudut kota, hanya untuk mencari makan dan bukan menikmati indahnya bunga taman.
Itu mungkin hanya ungkapan sang burung ketika mengudara di siang hari demi isi perutnya. Ataukah ungkapan itu juga berlaku bagi Anda selaku profesionlisme yang mengejar bisnis dan bergelimang hujau nya uang daripada menikmati hijau taman? Ada banyak taman kota tapi sayang, hanya diisi muda mudi yang tak jauh dari maksiat dan nafsu sebagai tempat berteduh nyaman. Atau hanya diisi pria tua renta yang berjalan perlahan menghabiskan waktu pagi dan sore hari? Taman bukan kebutuhan bagi profesionalisme dan usahawan, taman tetap akan sunyi sepanjang pemahaman diantara kita tetap berbeda.

Bangau yang setia bermukim di taman ini
Seperti taman ini yang berada ditengah perumahan kelas elit yang sebagian penghuninya adalah pengusaha. Danau hanya berisi ikan sebagai bahan pangan sang Bangau, tapi sayang bukan terlihat seperti taman. Dan mungkin nantinya akan menjadi sebuah gedung yang menghasilkan banyak uang darinya. Kemana lagi kita bisa menikmati teduhnya taman ketika setiap orang hanya berfikir tentang uang, bahkan pemahaman yang sulit dimengerti.
Ketika Taman Bukan Tanggung Jawab Mu
Banyaknya pemahaman diantara kita membuat taman yang seharusnya menjadi kebutuhan, kini harus berkompetisi dengan bisnis. Sebagian orang mempunyai pemahaman bahwa hijau dan taman hanya urusan instansi dan organisasi terkait. Urusan kami menggerakkan roda perekonomian, tak penting apakah kota itu nantinya sepanas gurun sahara. Bahkan ada yang mempunyai pemahaman bahwa instansi dan organisasi menanam, tugas kami memanen. Tak hanya hutan, pohon jalan juga sering menjadi korban dengan berbagai alasan hanya untuk mendapatkan 1 meter kubik kayu.
Hijau itu uang, dan untuk menikmatinya Anda butuh uang.
Kita bukan membicarakan Green Earth, ini soal taman yang menjadi kebutuhan dan milik umum. Taman kota yang saya jumpai bisa dihitung dengan jari, artinya kita tak perlu mengeluarkan banyak uang saat menikmati hijau taman. Dipinggir kota sudah banyak dibangun taman yang akhirnya harus mengeluarkan lembaran hijau cukup tebal, itupun dengan sedikit hijau dan meriahnya ajang permainan. Apakah tak ada taman lain yang terjangkau selain Kebun Bintang?
Taman Murah Milik Instansi Dan Tak Terawat?
Kota ini luas dengan meningkatnya jumlah perumahan, tak sebanding dengan jumlah taman yang ada. Wajar kalau kita semakin merasakan gurun sahara semakin dekat dengan kota. Lalu, apakah yang namanya hijau menjadi tanggung jawab kita bersama atau hanya selogan organisasi untuk memerangi pemanasan global? Menanam rumput dan bunga di depan rumah, itu juga merupakan bentuk tanggung jawab. Setidaknya, saya masih melihat burung berterbangan di taman pagi hari.
Inti Post:
- danau buatan, bunga taman, kerugian taman hijau kota, saat teduh adalah kebutuhan, taman kota,













Berbicara taman setahu saya semua senang melihat taman yang hijau nan asri. Hanya bedanya tak semua orang peduli dan punya jiwa ikut memiliki keberadaannya apalagi ikut menjaga dan merawatnya.
Taman hanya sebuah tempat berteduh, dan malah kebanyakan mendirikan bisnis yang justru merusak keindahan taman itu sendiri.
ya sulit sekali mencari taman di kota-kota Indonesia ya?
Di daerah tempat tinggalu, dalam radius 5 km ada sekitar 10 taman besar kecil. Puaaaaassss
EM
Mbak EM buat saya iri, apa perlu kami berangkat kesana?
wah baca postingan ini dan lihat gambar ilustrasinya , jadi ingat rumah nenek saya mas, hehehe
Lho, rumah neneknya ada di taman?
pada kenyataan di kota ini, taman2 hanya dijadikan sebagai tempat untuk mereka berteduh dikala ingin maksiat..
Bukti nyata dari seorang pelaku?
taman dan ladang uang…
salam kenal mas..
pengusahanya berfikiran tamannya diganti dengan gedung2 yg ber-AC, jadi ya tetep adem.. hehehe
Paling tidak atapnya dibangun taman, biar sedikit lebih teduh
Saya suka lagunya band indie Bangku Taman, hehee
Perlunya kepedulian ya tinggi .sekarang hijau gratis..
bsk kalo uda ga hijau. .
untuk mencari yang hijau butuh duit @_@
Sakrang aja sudah harus keluar duit, ngga ada taman gratis
Taman bukan kebutuhan, itu sangat tepat bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang hanya berfikir soal kepentingan mereka sendiri. Tak jarang kita lihat taman-taman yang terbengkalai, dan yang lebih parah lagi saat ada kebijakan yang mengubah taman menjadi gedung-gedung tinggi. Dan tinggal menunggu waktu, sampai kapan hijau bumi akan bertahan…
Ngga perlu ditunggu Mas, sekarang aja sudah menjadi kenyataan. Satu satunya yang buat adem cuma pohon jalanan
taman sebenarnya termasuk bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan hunian manusia. sayangnya, banyak pengembang yang mengabaikan hal ini. mungkin mereka berprinsip bahwa setiap sejengkal tanah mesti menghasilkan uang, dan dari sisi finansial, taman dianggap tidak memberikan keuntungan sama sekali. walah!
Atau saya malah kepikiran, Kebun Bintang masa mendatang menggunakan kamar2 dengan AC komplit. Pengunjung menggunakan elevator & lift
sayangnya di kota saya, jarang ada taman hiks
Biar pun ngga ada Taman, yang penting masih punya Temen
siph…
q stuju ma kata2 kakak..
salam kenal..
Salaman dulu
Perumahan tempat tinggal saya kecil, tak ada tempat untuk taman. Tapi sebagian orang yang punya halaman masih mempertahankan pepohonan besar. Ya, masih ada tempat untuk burung prenjak, burung gereja dan bunglon untuk menghibur warga perumahan
Setidaknya mengatasi kekurangan taman kota yang minim 
Sebenarnya kalau developer mau berkorban satu petak rumah menjadi taman kecil, itu sudah menyejukkan hati. Tapi sayang, saya ngga pernah melihat developer perumahan kecil seperti itu
kalo saya ga butuh taman lagi, tapi HUTAN
Wah, tapi kalau hutan ada dikota bisa ribet. Banyak kandangnya
di rumahnya masing-masing dibangung taman saja sebagai pengganti
Membantu sih, tapi yang ekonomi pas2 an ngga mampu. Biaya taman gede selain butuh lahan sepetak rumah
Bumi semakin hari semakin gersang. Mungkin ini sudah kecenderungan yang menjadi hukum alam. Tapi bukan berarti kita harus apatis dan pesimis. Dengan langkah sederhana dari setiap yang punya rumah (misalnya dengan menanam pohon atau setidaknya tanaman hijau), maka bumi bisa kita warnai dan beri udara bersih.
Tentang taman, harusnya dari tata ruang perkotaan diatur, bahwa ada jalur hijau yang tidak boleh dikonversi menjadi bangunan atau permukiman. Pihak perencanan tata kota dan pembuat kebijakan seharusnya sadar lingkungan.
Selama ini yang menjadi jalur hijau cuma trotoar Mas, dikota saya malah taman pusat kota sedikit demi sedikit berganti menjadi batu permanen
Berbicara taman memang kadang seru dan tak ada habisnya. Kebutuhan ruang terbuka hijau memang penting untuk warga kota agar tidak penat karena bom bardir berita dan sinetron yang kian hari makin parah
Kalau cuma ngilangin penat, kan ada kartun yang bisa buat ketawa
Jangan-jangan memiliki taman di kota-kota besar di Indonesia hanya menjadi mimpi sehingga dari namanya saja bisa tercermin: Taman Impian. Ya, tapi bagaimana ya… Memang sepertinya taman bukan kebutuhan kita orang Indonesia. Yang kita butuhkan adalah mal-mal megah tempat membuang duit. Lihat saja di kota-kota di luar Jakarta pun mal semakin banyak dibangun. Bahkan Gubernur dan Walikota sampai bertentangan karena Gubernur ingin membangun mal dan Walikota ingin mempertahankan bangunan tua.
Atau banyak yang berfikir, “mau ngadem dan sejuk silahkan pindah ke hutan. Yang penting kumpulin koin emas dulu”
Saya tetap merindukan taman hijau yang cukup luas, dengan banyak bangku2nya untuk duduk, pohon tua yang rindang, dan jalur jalan dan lari yang cukup lebar.

Lumayan, untuk lari pagi, biar gak bosen lari di jogging track melulu.
Taman yang terlalu besar juga ngga terawat Sop, penghuninya dipenuhi pedagang kaki lima yang menggunakan bangku sebagai tambahan alat dagang.