Negara ini di kelilingi lautan yang kaya dengan hasil laut berlimpah, tapi sayang hasil laut kita tergolong kurang gizi.
Menyusuri pasar tradisional di kota Medan dalam minggu ini akan sangat terasa sulit ditengah sibuknya kaum Ibu dan para pedagang yang menjajakan berbagai bahan pangan. Seperti halnya daging dan ikan menjadi bahan yang mengalami lonjakan permintaan hingga mejelang akhir Ramadhan. Kita tak perlu takut dengan kesegaran daging yang akan dibeli, pada dasarnya sebagian besar daging yang di perdagangkan berasal dari petani dan peternak lokal. Bagaimana dengan hasil laut? Kita juga tak perlu takut karena nelayan kita cukup banyak dan persediaan ikan segar akan tetap tersedia di pasar, hanya saja nilai gizi makanan laut tersebut patut di pertanyakan.

Pusat Pasar-Medan, "ikan bertubuh kecil lebih diminati"
Hasil Laut Terbaik Tak Suka Pasar Lokal
Pemerintah saat ini tengah menambah armada kapal patroli untuk mencegah pencurian ikan di wilayah kita. Negara mungkin bisa mencegah pencurian ikan, tapi disisi lain kaum kapitalis membuat impian bangsa dengan takaran gizi terbaik hilang seketika. Mereka lebih tertarik mendulang dollar melalui pasar hasil laut luar negeri dibanding pasar lokal yang katanya ‘Tak sanggup beli‘.
Nelayan yang berlabuh dengan muatan ikan di kapal mereka akan disambut dengan senyum manis eksportir. Hasil laut, termasuk ikan berukuran sebesar kaki hingga lebih besar dari tubuh manusia tak akan luput dari tangan eksportir. Kemudian sisanya akan diteruskan ke pasar tradisional termasuk diantaranya ikan bertubuh kecil atau masih berusia muda. Tentunya ikan dewasa memiliki kualitas gizi lebih baik dengan potongan daging tanpa sisik dan tulang, hingga berat serta kemasan menjamin mutu lebih baik, terlebih ikan Tuna. Sangat berbeda dengan ikan yang pada umumnya di perdagangkan hasil laut pasar tradisional, ada yang menggunakan pengawet mayat, dan hampir 1/4 berat ikan yang kita beli adalah tulang, cangkang & sisik. Alhasil, daging yang kita konsumsi tidak penuh, mungkin potongannya tak lebih besar dari 3 jari Anda.
Ini sebuah kenyataan bahwa menjelang hari Lebaran hasil laut pun masih disajikan kurang gizi, daya beli dan anggapan pedagang merugi ketika menyediakan hasil laut berukuran besar tak ada yang membeli. Mereka lebih memilih ikan lebih kecil yang mungkin sudah berhari-hari, atau lebih tebal kulitnya daripada daging. Apakah kita yang memang tidak mampu mengkonsumsi, atau pemerintah lebih senang membiarkan kapitalis membawa karung dollar?
Mari,…Kita Kelola Hasil Laut
Hampir di setiap rumah kalangan menengah kebawah memiliki motor lebih dari satu, atau handphone dengan branding ternama dengan biaya pulsa yang tidak sedikit. Dan banyak dari kita lebih memilih perangkat dan kebutuhan sekunder yang mungkin sudah berlebih untuk digunakan, padahal sisi kehidupan mereka belum bisa dikatakan ‘lebih dari cukup’. Mengkonsumsi hasil laut tidak harus setiap hari, setidaknya sekali dalam seminggu.
Berapa biaya yang kita keluarkan setiap bulan untuk menutupi biaya motor, pulsa dan internet? Itu jauh lebih besar dari kebutuhan pembelian ikan bergizi tinggi minimal 4 kali sebulan. Nyatanya kita lebih memilih kurang gizi demi sebuah modis, keangkuhan, yang membuat kapitalis senang.
Di bulan Ramadhan tahun ini, kita berusia 66 tahun tapi belum me-merdeka-kan pemikiran kita yang lebih senang di jajah Kapitalis. Ini bukan hanya masalah hasil laut, hasil bumi yang juga mengalami hal sama, tapi kita tetap terus memilih kurang gizi diatas ego dan beranggapan ‘lebih pintar’ dengan memilih perangkat canggih. Kurang gizi, tak akan merubah pemikiran generasi mendatang menjadi lebih baik dan kita mungkin akan merasakan 66 tahun lagi keadaan ini.
Pemikiran kita yang selayaknya berubah bagaimana mengelola hasil laut, dan nantinya sistem pemerintahan akan ikut menjadi lebih baik!
Inti Post:
- hasil laut, ciri ikan segar masih baik, keunggulan produk hasil laut ikan tuna, hasil-hasil laut, pangan segar, gizi makanan laut, usaha hasil laut medan, pasar ikan di daerah nelayan atau dekat laut, pemasaran ilan hasil laut, mitos tentang makan ikan di kalangan masyarakat Jawa, USAHA PENCEGAHAN PENCURIAN HASIL LAUT, laut kita hari ini, khasiat ikan mas bagi kehidupan sehari hari, apa hasilnya jika kita kekurangan nutrisi, kesalahan pemerintah waktu mensosialisasikan program gemar ikan, aturan pemerintah tentang mendatangkan ikan teri dari luar negeri, berat ikan tuna di pasaran, budaya makan ikan dijepang, hasil hasil laut, hasil hasil yang ada di laut,













Anggaran gizi disita untuk bahan korupsi, Mas..
Ramadhan jagan ngomongin korupsi dulu, udah banyak di media
wah follower mas di twitter banyak ya..
itu kok tulisan viva di tweet nya dicoret..?
Itu bukan dicoret, cuma strigh trough aja
Mari memulaia merubah pemikiran kita tentang ini.
Tadi shubuh kebetulang menu sahur saya ada ikan lautnya.
Waduh,…. apalagi kalau menunya dibakar. Sepotong ngga akan cukup
Aku gak terlalu suka makan ikan seh mas.. jadi lebih seringnya makan ayam sama daging sapi, hehehehe
Walah….. ya sayapun lebih senang daging, tapi nilai nutrisi ikan berbeda kan?
sebenarnya ikan baik untuk dikonsumsi namun budaya makan ikan rasanya belom memasyarakat, padahal negeri kita adalah negara maritim
Karena sayuran lebih gampang dan murah, kebanyakan dari kita lebih suka ‘ngirit’ untuk memenuhi kebutuhan sekunder lainnya
yang bergizi hanya untuk yang di export ke luar negeri bang..itu makanya ikan kita yang bergizi dan segar pasti mahal.
— Reply
Ya jelas mahal, namanya juga ikan pilihan. Tapi lebih mahal mana dengan harga pulsa?
tapi emang susah juga kang situasinya.. klu gag gitu.. apa ekonomi kita bakal bisa jalan?!??! lah wong kek gini ajja ngesot susahnya bukan maen apalagi kalu gag gtu..
prihatin sii 
Oh, iya… Tujuan utama pemerintah memang mendatangkan dollar. Tapi ingat, China juga bisa kuat dengan pasar dalam negeri.
ketakutan kapitalis bahwa ikan tersebut ngga bakalan laku, itu tak mendasar. Kalau kita mulai merubah gaya hidup dengan memilih produk yang bagus, nantinya produk ekspor juga berkurang untuk menutupi pasar lokal.
gmn klu di terapin politik dumping kang?!?!? kek waktu jaman jepang..?!?!? eehh.. malah salah iia?!?!? duuhh.. jdi bingung
Hehehe, kalau soal politik gimana nantinya, itu urusan pejabat. Saya ngga mau sibuk mikir, ntar dikata Nyinyir. Mending protes
oo iia… bener juga kang…
Sebenarnya yang patut disalahkan siapa, Mas? Pedagangnya yang tak mau rugi sehingga lebih senang menjual ikan besar ke eksportir? Atau para eksportir ikannya yang suka memborong ikan besar ke nelayan (pedagang)? Atau jangan-jangan pembelinya (konsumen) sendiri yang memang lebih suka ngirit tidak mau beli ikan bergizi dan lebih suka beli ikan yang kecil?
Tentang ngirit makan dan lebih mengutamakan kebutuhan sekunder yang lain saya juga ada contoh. Ada keluarga tidak miskin tapi makannya amat sederhana. Bukannya karena tak mampu beli makan yang layak tapi karena ingin cepat kaya dengan mengorbankan kehidupan sehari-harinya
Oh, ya yang masalah orang kita yang gemar dengan barang gadget berteknologi, HP canggih dan berganti-ganti ini juga pernah disindir oleh Dahlan Iskan. Banyak orang kita lebih suka berdemo mengeluhkan kenaikan listrik yang bisa dinikmati sekeluarga tapi tak pernah berdemo mengeluhkan betapa ngopeni biaya pulsa setiap bulan yang tidak sedikit jumlahnya.
Ketiga nya salah Mas.
Nelayan bisa saja menjual produknya ke pasar tradisi yang mungkin memiliki pasar menengah ke atas untuk ikan bergizi. Ini bisa menguntungkan, apalagi tidak semua pasar menjualnya. Eksportir juga salah yang dengan sengaja melakukan monopoli, apalagi pemerintah yang sudah tau tapi tidak membatasi pembelian. Dari sinilah nantinya muncul ikan kualitas jelek yang diberi pengawet!
Soal irit, ini yang susah. Setiap manusia berbeda cara pandang mereka untuk mencapai kenikmatan dunia. Padahal, duit dicari untuk kebutuhan hidup dan memperpanjang usia. Kalau gizi sudah dikurangi, usia 30-an juga ngga tampan menunggangi roda 4
di kompas kemaren ada liputan tentang konsumsi ikan kita (terutama di jawa) yang kurang dari 20 persen setahun. kalopun punya duit mereka lebih suka membeli ayam. jadi perangai konsumen ini yg perlu diperbaiki dulu, apalagi penduduk terbesar ada di jawa. di pulau kelahiran saya (sulawesi) niscaya tiap hari makan ikan. orang2 sana memang maniak ikan hehehe
mitos maan ikan membuat manusia gampang cacingan juga ikut memengaruhi rendahnya pembelian ikan oleh masyarakat di jawa/ perlu dipikirkan oleh pemerintah sebagai regulator untuk mengatasi ini semua.
ya, begitulah perangai dan pola pikir kebanyakan penduduk kita. Mereka lebih menyenangi konsumsi lain daripada ikan.
Sebenarnya kita cuma butuh peran pemerintah untuk sosialisasi gizi, yang mereka tahu bahwa gizi tinggi cuma ada pada daging dan mitos2 penjajah yang masih dipercaya sampai sekarang.
hasil laut sangat mahal jauh dari jangkauan maka kembali lagi ke ikan air tawar yang lebih murah
Tulisan yang mantap!
Aku slalu diminta oleh nenekku dulu untuk setidaknya seminggu sekali makan ikan, seperti orang Jepang yang konon mewajibkan makan ikan setiap hari.
Kalo waktu boleh berulang, saya malah mau makan ikan tiap hari ketika sel otak saya masih bertumbuh
Kebanyakan kita bukannya ngga mau makan ikan, tapi kurang sosialisasi pentingnya nilai gizi. Dan di kampung orang tua saya, masih ada yang berpendapat bahwa makan ikan membuat cacingan. Yang kata Kakek saya semua itu pendidikan dari zaman penjajah dulu
Nenek saya dulu sering membelikan ikan Teri untuk lauknya. Tapi sekarang saya malah sudah jarang makan ikan laut
Trus,… lauknya sekarang daging melulu? Hebat donk
Wah, udah lama gak main ke pasar, jadi kangen…
Di keluarga saya juga punya kolam ikan sendiri, jadi mungkin jarang beli ikan di pasar…
Ini soal ikan laut yang katanya lebih bergizi dari ikan kolam
agaknya bukan hanya sektor bahari saja yang bener2 dijajah kaum kapitalis, sektor lain pun setali tiga uang. kata2 bung karno agar kita menjadi bangsa mandiri pun sudah lenyap tertelan zaman.
Kalau dipikir2, apa yang tersisa sekarang? Semua yang bagus2 udah dinikmati penduduk luar
Kalau ini memang tergantung dari kebiasaan dan pola pikir.
mereka yang besar digunung, sudah dipastikan lidahnya tidak akrab dengan ikan, tetapi mereka yang dekat pantai, lidahnya tak bisa dibohongi, ikannya segar atau bukan.
Ayo makan ikan.
Untuk mencapai daerah pegunungan, mungkin butuh waktu lama hingga ikan membutuhkan pengawet atau bermodalkan Es. Tentunya rasa juga mempengaruhi.
saya jadi bertanya-tanya bagaimana nilai kandugan gizi ikan2 yang biasa saya konsumsi, apalagi bagi kami orang Makassar ikan adalah sebuah keharusan.
Wah, kalau daerah pinggir pantai bisa saja mendapatkan kualitas terbaik walaupun ukurannya tak begitu besar
ikan yang gede2 malah di ekspor, buat masyarakat lokal yang kecil2. pantas HDI Indonesia ga naik2.
ckckck… ngenes banget…
Sejak dollar menjanjikan, ikan gede semakin jarang di pasarkan. Yang penting kesegaran, jangan sampe yang dijual sudah berhari-hari
Wah teryata keadaan demikian parah ya. hasil tangkapan melimpah tapi rakuyat sendiri tidak kuat mengkonsumsi.
Itu kenyataan, kita bukannya tak mampu beli. Tapi sadar akan gizi di masyarakat sangat kurang sehingga lebih memilih yang murah
bener banget tw kadang2 rasa ikannya pun sudah berbeda
terkadang ngga habis fikir juga gan, sesama wong kok saling meracuni…
paraagghh….berarti kudu waspada beli ikan di pasar tradisional dung…
Pasar biasanya sering menawarkan ikan yang sudah sehari, bahkan tubuh ikan sudah tak keras lagi
ini kayak hasil bumi kita mas.. malah dieksploitasi negara luar..
malah kita jadi miskin dan negara lain semakin kaya
Dan itu sudah bertahun2, tapi kita masih ‘manut2′ seperti ngga ada yang kecurian
Wadew… pasti kasusnya beda mas kalau dengan saya.
Punya duit yg sangat banyak pun saya tetap tidak mau beli ikan!
Saya tidak suka ikan dan sangat tidak suka ikan!
Ikan teri bolehlah..
Memangnya kalau makan ikan ada efek?
Atau pantangan susuk ya?
Ah mas ini gimana sih, namanya tidak suka ya tidak bisa dipaksa walau apapun alasannya.
Saya itu alergian sama ikan, gk tahan sama bau amisnya.. hihi…
Lebih sehat hidup denga vegetarian..!
Ooo, alergian ternyata…. Saya malah mikir negatif.
Saya pun alergian, termasuk kapal selam. Nah, yang itu ngga bisa saya makan
Mari kita bersihkan negara ini. Kita sudah merdeka! Jangan dikotori oleh tangan2 mereka.
Bentul, kadang kita acuh masalah proses kebersihan makanan mas.. semoga menang!
sebenarnya masalahnya terletak pada kita sendiri….
coba di bayangkan…
buang sampah sembarangan….
otomatis ekosistem di sungai dan laut rusak…
dah akhirnya hasil laut jadi menurun dan dalam keadaan yg tag memuaskan..
sebetulnya kandungan gizinya sama saja sih. Jangan dikira ikan teri itu tidak bergizi loh. Kalsium banyak terkandung di ikan teri, dan di Jepang kami makan ikan teri sehari-hari, hanya di siram air panas saja.
Dan sebagai info, harga ikan di Jepang juga mahal! Lebih mahal dari ayam dan daging babi. Tapi memang kebiasaan orang Jepang untuk makan ikan waktu selamatan (bukan daging) itu membuat orang Jepang menyukai ikan. Daging baru saja masuk ke kebudayaan Jepang. Yakiniku itu datang dari Korea, bukan Jepang. Jadi persepsi manusianya yang perlu diubah.
. Budget beli buku berapa ya sebulan. Orang Indonesia akan menaruh buku sebagai nomor sekian, mungkin jauh dibawah budget ikan 
Saya rasa kalau mau membandingkan ikan dengan pulsa, bisa juga kita bandingkan pulsa dengan beli buku
EM
Aha, bener Mbak EM. Yang salah bukan ikannya, toh topik saya sebenarnya menjurus kepada pola hidup “mengesampingkan”. Kalau harga ikan mahal, itu kan wajar dan yakin kita sanggup membeli kalau memang pemahaman tentang gizi sudah terpenuhi. Soal buku dan pulsa? Sama aja sih, kebiasaan kita sebagian besar mementingkan ‘sekunder’ yang hanya memuaskan nafsu, bukan ilmu