Jalanan ini menjadi lalu lintas rutin dan selalu menjadi pusat perhatianku ketika limbah itu mengotori pembuangan air di sekitar masyarakat setempat. Hanya karena kepentingan kapitalis, limbah hanya menjadi dongeng belaka tanpa melihat dampak yang dihasilkan. Mereka kini hanya diam, membiarkan semua itu terjadi demi dapur yang harus mengepul setiap harinya. Siapa yang peduli?

Pengairan yang tercemar limbah sisa pembakaran
Masyarakat sekitar telah berulang kali mengaspirasikan keluhan tapi hilang begitu saja. Padahal, kolam ikan dan sawah mereka telah berubah warna airnya menjadi merah kehitaman akibat limbah pembakaran batu bara. Ada yang mendapatkan ganti rugi ketika ternak ikannya mati, tapi bagaimana dengan kualitas air sumur yang baunya seperti karbon?
“Pabrik itu sudah beroperasi lebih dari sepuluh tahun, nyatanya penduduk setempat tidak mengalami gangguan kesehatan.”
Mungkin tidak untuk saat ini, tapi beberapa tahun kedepan kesehatan mereka akan menjadi pusat perhatian besar.
Lebih Berat Kepada Kepentingan Kapitalis
“Kami bangga hidup di bumi pertiwi.” Ungkapan yang sangat tidak sesuai ketika kita melihat sisi buruk kepentingan kapitalis. Sebut saja pabrik ini sebagai salah satu penghasil alat peralatan rumah tangga yang menggunakan bahan baku alumunium, dan bahkan terbesar di Sumatera. Letaknya yang berada dikawasan pinggiran kota Medan desa Marindal, telah merusak lingkungan dengan membuang limbah sisa pembakaran batu bara di selokan dan pengairan setempat.
“Ini sudah terjadi selama beberapa tahun” akan tetapi mereka mengganggap ini hanyalah sebuah takdir yang harus diterima masyarakat setempat hanya karena harus mengisi sejengkal perut mereka. Padahal jika dihitung yang mereka terima terkadang tidak sesuai dengan upah minimum yang diberlakukan. Belum lagi jaminan keselamatan yang kurang mapan, pekerjaan mereka berhadapan dengan tungku peleburan alumunium.

Pengairan tercemar melewati sawah dan kolam ikan
Siapa Yang Melirik?
Tak seorangpun yang duduk diatas sana melirik semua ini, seakan menutup mata. Tak sadar bahwa beras dan ikan yang mereka makan berasal dari sana. Petani mengeluh bukan hanya satu masalah yang mereka peroleh, tetapi komplikasi dari lingkungan dan biaya pupuk yang semakin melonjak. Kemana lagi mereka harus mengadu? Aspirasi itu telah berulang kali terjadi, tapi mungkin mereka lelah karena tak satupun dukungan datang secara penuh.
Ini bukan saatnya menunggu sang Ratu Adil, waktu terus berjalan dan sesuatu harus terjadi!
Inti Post:
- limbah, dampak negatif limbah, pencemaran air oleh limbah rumah tangga, foto limbah, dampak buruk air limbah, dampak limbah, gambar limbah serta penjelasan limbah, dampak negatif limbah aluminium, dampak limbah spon sandal, dampak limbah rumah tangga, dampak limbah air rumah tangga, air tercemar oleh limbah, perairan tercemar oleh limbah pertanian, penyebab air kolam ikan berwarna merah, limbah sisa peleburan aluminium, pengaruh limbah rumah tangga, limbah perusahaan yang mengotori sawah masyarakat, limbah pembakaran batubara di medan, limbah peleburan aluminium, lingkungan yang tercemar air,













Oh ya, terkadang semua itu tergantung dari “siapa pemimpinnya”. Banyak yang seperti ini, bukan satu atau dua kasus.
Tempat saya juga banyak yang seperti ini, kok. Masalahnya banyak yang buang badan dan ngga peduli satu sama lain, yang penting duit mereka lancar!
kaum kapitalis di negeri ini agaknya sudah menggurita, mas. sungguh menyedihkan. demi mengeruk untung mereka abaikan lingkungan yang seharusnya diletarikan dan dijaga kesehatannya. selamat tahun baru, semoga makin tambah sukses.
Kapitalis,…. sepertinya dari dulu hingga kini belum berubah kan? Masih tetap seperti yang dulu walau sudah berganti2 pemimpin. Terus, kita mau nunggu siapa lagi?
Wah naas sekali melihat sawah yang merupakan sumber bahan pokok kita tercemari seperti itu. Sebaiknya harus dituntaskan secepatnya, sebelum dampaknya kian membesar.
Btw, salam kenal
Nah, itu masalahnya. Kalau cuma satu dua orang tanpa dukungan, Anda sudah tau kan ending nya?
Banyak wilayah yang sudah kehilangan tempat bagi para petani untuk menikmati kemakmurannya, dulu sawah menghampar hijau. Sekarang sudah banyak hamparan hijau itu yang ditumbuhi pabrik2 dan perumahan, hanya tinggal menghitung waktu saja untuk mempertahankan sisa hamparan itu…
Yah,… hitung2 bulog trus impos beras…. Sampai kapan? Negara maju pun mensubsidi pertanian mereka.
Merusak lingkungan = melawan TUHAN
Sebagian besar warga kita memang sudah melawan Tuhan. Oleh sebab itu, azab silih berganti