Mereka bukan pemain Timnas ataupun club bergengsi daerah, mereka hanya pemain dari kesebelasan kecil antar kampung. Sebelas pemain berlari mengejar bola yang menggelinding di padang rumput yang luas, mencetak gol dengan strategi yang mereka rencanakan. Tapi, jangan harap melihat permainan ini ditengah kota yang sesak dengan kesibukan bisnis.
Mereka berasal dari kota yang mencari keringat di lapangan bola besar dengan rumput asli, tak seperti rumput di lapangan futsal. Ada kenikmatan bermain di lapangan bola dengan ukuran asli dibanding dengan lapangan futsal yang kini menjamur. Mereka menempuh jarak berapapun jauhnya hanya untuk mencari lapangan hijau. Yang mereka cari hanyalah kepuasan seakan berada di Gelora Bung Karno dengan sorak sorai penonton yang riuh.
Menjelajah Pinggiran Kota
Inilah kota dengan penduduknya yang semakin bertambah, pemukiman semakin rapat hingga kita seakan tak pernah melihat lagi lapangan berukuran besar. Lapangan bola semakin sulit ditemukan dipinggir kota sekalipun. Developer menganggap lapangan itu sebagai lahan bisnis potensial, property telah menggusurnya.

Lapangan bola ini tidak akan berumur panjang, property disebelahnya sudah menunggu.
Menjelajah pinggiran kota hanya akan menemukan satu atau dua lapangan bola disetiap kecamatan, dan itupun tidak semua kecamatan memilikinya. Sulit mencari lapangan bola tidak membuat mereka berhenti dan meninggalkan kebiasaan bermain di rumput hijau, bahkan membuat mereka semakin gigih walaupun harus membayar sewa yang mahal untuk setiap jamnya.
Futsal Lebih Diminati
Keterbatasan lapangan dan semakin sulit mencari lapangan dengan rumput hijau membuat lapangan futsal diminati masyarakat kota. Lebih praktis dengan ukuran seperti lapangan basket, tidak memerlukan banyak pemain, dan menjadi salah satu olah raga baru urban kota. Kenyataannya, tempat tempat futsal yang tersedia terus dipenuhi dan dibanjiri penggemarnya. Mereka bisa melupakan rumput hijau yang luas, yang bisa menguras keringat mereka lebih banyak.
Zaman telah berubah, setelah bertahun tahun sepak bola dimainkan di lapangan hijau kini di minimize menjadi lebih menarik.
Inti Post:
- futsal, lapangan bola di sekolah, GAMBAR LAPANGAN BOLA, lapangan bola besar, MENGAPA FUTSAL LEBIH DIMINATI, rumput lapangan glora bungkarno, lapangan luas dan hijau, luas lapangan futsal, lapangan putsal, lapangan bola kampung, gambar rumput hijau, gambar mereka yang bermain futsal, lapangan futsal gelora bung karno, Lapangan Hijau, tempat futsal, gambar lapangan, conblock futsal, rumput untuk lapangan olahraga, rumput untuk lapangan futsal, rumput lapangan bungkarno,














Dulu waktu masih sekolah masih senang dengan lapangan hijau mas,tetapi sekarang memang sulit ditemukan dan sedikit juga rekan-rekan yang mau main dilapangan besar, dan futsal menjadi alternatifnya
Lapangan hijau terlalu besar, atau nafasnya yang ngga sanggup?
fenomena yang terjadi memang begitu, mas. agaknya makin sulit menemukan ruang dan space utk bermain, apalagi bermain bola. kaum kapitalis agaknya ndak rela sejengkal tanah pun tersisa utk memberikan kemerdekaan buat anak2 dalam bermain. makin repot.
Jangankan lapangan lebar, kuburan aja digusur buat property!
Lapangan hijau itu sudah jadi beton semua Mas…
Amat menyedihkan.
Kalau nggak jadi rumah ya jadi mal.
Yang masih hijau hanya di desa…
Jadi sekarang kita tak pernah lagi merasakan sesak nafas dilapangan hijau.
memang sekarang sulit mencari ruang terbuka hijau. Bukan tidak mungkin kiamat akan terjadi sebentar lagi jika manusia tidak berubah…
Sulit mencari ruang terbuka karena pertumbuhan urban yang drastis
Di desa seperti tempat saya masih banyak mas, tapi di kota memang sudah tergerus langkah pembangunan hehe…
Daerah pinggiran masih menjadi tempat buruan rumput hijau
itulah kenapa embun pagi sudah enggan menyambangi kota-kota besar di negeri ini, rumput sahabat mereka telah dirusak keberadaannya digantikan dengan beton. Hawa panas efek rumah kaca sudah tidak lagi dihiraukan, kesejukan embun dan indah rumput entah kapan kita dapatkan kembali. Ingat waktu kecil tiap pagi ke lapangan lari pagi menghirup udara segar.
Embun pagi tak sesegar dahulu, seperti halnya air hujan yang terkadang beraroma karbon saat menetes ke bumi.
Saya juga merindukan main Bola di lapangan Rumput Asli seperti yang dulu pernah saya rasakan bermain bola sepulang sekolah di Lapangan depan masjid di kampung saya.
Sekarang Masjid Jami’ sudah berubah dan lapangan rumput tadinya berganti menjadi conblock untuk parkir mobil
Conblock lebih gampang ngurusnya, ngga perlu motong rumput
Pilihannya cuma satu, futsal!
di daerah saya masih ada lapangan hanya saja tidak diurus sehingga lapangannya terus memburuk kondisinya…
Kalau ngga dipakai, kirimkan saja kesini!