Berapa banyak rakyat kita yang memiliki pendapatan dibawah rata-rata? Ada lebih dari setengah jumlah penduduk kita sekarang yang memiliki pendapatan kecil. Apa pantas kita menyebut mereka pemalas? Atau memang gusti Allah belum membuka pintu rezeki bagi mereka.
Pemalas, sebagian dari mereka yang sukses menyebut orang-orang ini sebagai pemalas yang kurang giat dalam bekerja. Kalau saya balik bertanya ketika Anda gagal mendapatkan jabatan penting “Anda kurang berusaha, jangan menjadi pemalas”, pantaskah pertanyaan ini? Sama halnya ketika kita mengatakan mereka seorang yang pemalas, padahal sebenarnya mereka bekerja lebih dari delapan jam, melebihi jam kerja karyawan kantor. Ini yang disebut pemalas?
Profesi Mereka Bukan Pemalas
Pria ini seorang penarik becak bermotor yang selalu menunggu disimpang jalan. Bagi mereka yang melihatnya berpendapat bahwa dia hanya sekedar duduk dan menunggu penumpang datang, kenapa tidak berkeliling dan mencari? Alasannya mungkin karena irit bahan bakar atau menunggu pelanggan yang sudah menjadi tumpangan sehari hari. Tapi mereka bekerja mulai dari matahari terbit hingga hampir tengah malam, dan terkadang makan siang terlewatkan. Inikah yang disebut pemalas?

Menunggu penumpang disimpang jalan
Pemuda ini mulai menajajakan dagangannya saat usai makan siang hingga tengah malam, artinya dia bekerja lebih dari sepuluh jam setiap hari di kaki lima.

Dagangan siang dan malam
Apapun kondisi cuaca saat itu tidak membuat pemuda ini menyerah dan dagangan tetap harus berjalan. Sesekali saya bertanya “Apakah saya sanggup jika menjalani pekerjaan ini?” Tentunya kita tak pantas menyebut mereka sebagai seorang pemalas.
Lalu, kepada siapa kata ‘pemalas’ pantas kita ucapkan?
Inti Post:
- gambar tahap membuat roti bakar, foto balap becak di medan, kata pemalas, kisah nyata seorang pemalas,













Mereka bukan pemalas,
mereka menciptakan lapangan kerja sendiri, sayang belum dapat payung yang jelas dari pemerintah..
Duh, ngarepin pemerintah? Jumlah mereka gede lho. Lihat aja skarang, dana bantuan ngga jelas!
sepakat banget, mas, kalau kita lihat realitas yang terjadi di tingkat grassroot sesungguhnya kosakata “pemalas” iyu tak ada dalam kamus kehidupan bangsa kita. kalau menurut saya, kata pemalas lebih tepat ditujukan buat pejabat yang ndak pernah mau “turba” alias turun ke bawah dan hanya minta laporan dan tahunya beres dari anak2 buah. repot, kan?
Lebih pantas lagi ‘pemalas’ ditujukan kepada pejabat yang tidur saat rapat di DPR
yap, bangsa Kita adalah Bangsa Para Pekerja Keras!
Pemalas jmlahnya tak lebih dari seujung kuku.
Yang PEMALAS itu Pemimpinnya… OMDO… Beraksi REAKTIP dan KAMPUNGAN!
Saya juga ‘eneg’ liat pemimpinnya
Saya tidak pernah menyebut mereka pemalas, … hanya saja saya dibuat kagum oleh salah seorang Tukang Ojek yang juga merangkap Tukan Service Elektronik.
Saran saya untuk mereka selain mendalami aktivitasnya juga bisa menambah wawasan dan keterampilan lain
Setiap orang punya 24 jam setiap hari, yang memebdakan antara orang Sukses dan Orang Gagal adalah -> Pemanfaatan 24 jam tersebut
CMIIW
Nha, itu dia… Pengendalian waktu ‘tidur’
wah, kalau dari contoh2 diatas seh mereka bukan kategori pemalas,
menurut aku yang pemalas adalah yang hanya meminta2..
ujung2nya rezeki memang sudah ditangan Tuhan yak!
Rezeki emang ditangan Tuhan, tapi yang bisa merubah kan diri sendiri, tul kan Mbak?
bener, Tuhan juga nyuruh kita berusaha..
gak ada ceritanya uang jatuh dari langit
klo di contoh diatas klo kita bilang mereka pemalas emang tega bener, klo kita miskin kebanyakan kita sendiri dirampok oleh saudara kita yang duduk di atas yang seharusnya nolong kita, itu mentalitas yang harus dibuang….
Mentalitas itu sulit dibuang, sudah menjadi daging.
sepertinya memang kata malas juga perlu direkontruksi pemaknaannya, demikian juga kata kerja itu. saking gregetan nama blogku aja kutulis pemalas.
Nama yg aneh ya