Anak jalanan, sebutan bagi pengamen ataupun pengemis yang meresahkan pengendara, dan sebagian orang menyebut pedagang lampu merah sebagai salah satu bagian dari mereka. “Apa yang berbeda? Pedagang terkadang berbuat sedikit memaksa kepada pengendara yang akhirnya menimbulkan argumen bahwa mereka tak jauh beda dengan anak jalanan lainnya.”
Kami hidup diantara aspal dan polusi kenderaan, jalanan telah membuka peluang kepada kami untuk meningkatkan nilai pajak.
Bukan kenyataan pahit tapi mungkin bagi mereka hanya sebuah lantunan hati ketika berdagang dibawah terik matahari. Dunia ini tak sesempit daun kelor, menurut mereka dunia ini lebih sempit dari apa yang kau fikirkan. Dan aku pun bingung, apakah hidup hanya untuk makan atau menikmati hidup hingga usiamu mati?
Anak Jalanan Aset Negara
Menyebut dirinya sebagai pedagang nakal, artinya kita hanya memandang sebelah mata. Rani, sebutan bagi dirinya yang bermandikan keringat demi menghabiskan koran dagangan. Jangan sebut ‘Rani’ saat membicarakan tentang dirinya, dia lebih suka di sebut ‘She’ berusia 16 tahun, rajin menabung, akrab dengan aspal. Sekilas She adalah contoh dimana cercaan melanda anak jalan, tapi dengan niat yang tulus bahwa berdagang bukan dengan unsur pemaksaan. Menabung adalah salah satu harapan agar cita citanya menjadi seorang engineers dapat terlaksana.

Tidurku lebih nikmat diatas trotoar
She juga tak berkeinginan menjadi seorang PRT dimana pilihan itu terjadi ketika nantinya tak sanggup lagi berdiri di atas aspal.
Aku anak jalanan dan bukan aset yang bisa dijual negara
Menanamkan niat dalam dirinya dikemudian hari agar nasib Ibu sebagai PRT tak diwarisi She, yang kini berjuang keras menutupi kebutuhan adik adiknya. Jangan bertanya berita hari ini kalau Anda belum membaca koran, karena She selalu menyisakan satu koran untuknya setelah dagangan habis. Dan jangan harap rekannya mendapatkan alas tidur koran sebelum She selesai membaca. Ini hanya sepenggal cerita anak jalanan ![]()
Miskin Selalu Bermimpi
Bukan bicara soal miskin karena aku pun masih miskin, tapi si miskin selalu bermimpi dengan harapan merubah hidup menjadi lebih baik. Miskin bukan seperti sinetron yang berakhir dengan kekayaan, miskin tak mampu kuucapkan. Itulah miskin hingga yang miskin tak mampu menjabarkan sejauh mana miskin baginya. Dan anak jalanan sanggup menyebut Anda miskin ketika tak memiliki uang receh padahal menyimpan berlembar lembar uang berwarna merah.
Anak jalanan adalah aset negara yang tak bisa diperjual belikan seperti pekerja lainnya, mereka bergerak sendiri menghidupkan roda perekonomian. Ya, setidaknya;
Ribuan eksemplar koran telah terjual di atas aspal, jutaan bungkus rokok, permen dan minuman kemasan habis disini. Entah berapa nilai pajak yang mereka bantu untuk pemerintah dengan perdagangan di atas aspal.
Masihkah Anda menganggap Anak Jalanan sebelah mata?
Inti Post:
- anak jalan, Sumatera Barat Anak terlantar, anak jalanan miskin, cerita anak jalanan, kisah anak jalanan yang tidak diurus negara, penyebab anak terlantar, pro dan kontra adanya pengemis dan anak jalanan, sebutan buat anak jalannan, anak anak terlantar, tempat tidur anak jalanan, trotoar jalanan, undang undang anak terlantar diurus oleh negara, kisah anak jalanan bekerja, kisah anak jalanan, harapan anak jalanan, anak jalanan di lindungi negara, anak jalanan selalu bercerita, anak terlantar diurus negara, apakah selama ini fakir miskin selalu dipelihara, aset negara terlantar,













bagus kali bg artikelnya..jadi ingat dengan UUD pasal 34 tentang fakir miskin dn anak terlantar yang seharusnya di pelihara negara..tapi pada kasusnya mereka dipaksa memelihara diri mereka sendiri diantara kerasnya kehidupan jalanan.
Kalau saya, pantes ngga dipelihara negara?
eum… kalo menurut aku sih undang-undang itu memang agak aneh terdengar. Terlebih setelah melihat keadaan sekarang dimana anak-anak jalanan hanya terus ditekan tanpa dipelihara
Ditekan? Saya rasa cuma dibiarkan, mumpung belum ada yang ribut
yah..masa abg di pelihara negara juga.
Kalo ngga negara, siapa lagi yang mau pelihara saya
saya juga mau bang di pelihara negara kalo gitu..
Nah, kalau gitu besok ganti pakaian gembel, pegang koran dan dagang di depan Depsos. Siapa tau kamu dipelihara negara
Saya baru nyadar mereka (anak jalanan) juga pemberi kontribusi pajak kepada negara tapi minim sekali menggunakan fasilitas dari negara (pemerintah). Saya harus berkaca kepada mereka. Mereka tak pernah mengeluh apalagi mempersoalkan masalah ini. Sementara saya selalu mengeluh tak ikhlas setiap kali pendapatan saya kena potong PPH.
Kita yang merasa punya, malah tak sedikitpun berkeinginan untuk membayar dengan hati nurani. Keberatan, dibayar malah membuat kaya pejabat pajak
sebenarnya menjadi tanggung jawab bersama di kala UUD ttg fakir miskin hanya sebatas Undang2 semata…
Nah, itu betul mas. Jangan hanya mikir dan mengharap pemerintah yang bakal menanggulangi.
betul sekali mas, siapa tau salah satu anak jalanan tersebut akan menjadi pejabat di negeri ini yang jujur adil.
Mungkin, tapi sekarang cuma bisa mimpi
Kalau ngomong soal anak jalanan yg bekerja bukan minta-minta emang gak ada habisnya.
Kadang mereka memang lebih rajin dari kita yg bekerja lebih ‘layak’ tp selalu saja masih disepelekan pemerintah..
Pemerintah malah menganggap mereka sebagai salah satu penyebab macetnya jalan raya, padahal dagang saat lampu merah
Hadeuhh jaman gini kok masih banyak yang belum dilindungi negara ya?
Terlalu banyak yang diurus, wajar kalau lupa. Pemerintah kan terbiasa nunggu ada yg gebrak
asal jangan krn dianggap aset negara maka negara dengan ‘santai’ merawatnya agar tidak cepat ‘rusak’.
Wadoh,….. ngga kepikiran, mungkin,… bisa jadi ;(
Semangatnya patut dikasih 2 jempol.
lebih sering memang negara tidak hadir saat kita membutuhkannya.
ketimbang pejabat korup yg kebutuhan hidupnya tergantung pada negera, jauh lebih bermartabat mereka yg bekerja di sektor informal namun tidak menjadi parasit bagi negeri ini. Mandiri, sikap yg patut dicontoh dr ‘She’.
‘She’ itu hanya sebuah simbol dari sekian banyak cita2 anak jalanan, banyak yang seperti itu. Hanya saja kita tak pernah perduli, apalagi pejabat
Salam Takzim
Semestinya ada karya nyata pemerintah melihat makin banyanya anak jalanan yang nota bene teratur di UU kenapa seakan tidak tersentuh ya, semoga mereka tetap bersabar
Salam Takzim Batavusqu
Kalau mesti bersabar, sampai kapan, Mas? Toh semenjak reformasi makin banyak, dan pejabat baru malah makin tak perduli
Feature yang menarik… dan sayangnya negara sering tak hadir dalam perkara ‘sepele’ ini namun lebih suka ada dalam perkara-perkara ‘besar’ yang membangun citra dirinya baik adanya.
Damn!
Mas DV, sekarang waktunya angkat nama, curi start pemilu. Siapa tau ada yang melirik posting ini terus berkoar koar di media. Hitung2 dapat simpati lha
semoga mereka bisa sabar,
Karena pemerintah terlalu sibuk untuk melindungi pejabat-pejabatnya, jadi lupa kalau ada anak jalanan, pengemis dan pengamen yang juga perlu dilindungi.gitu Mas….
Yang kita fikirkan, UU itu udah ada sejak kapan sih? Apa yang dibaca cuma UU anti korupsi? Kemana aja pejabat selama ini ya?
saya tidak
Saya juga bukan aset *ngarep jadi set*
maaf tapi negara blm mampu mengurus rakyatnya
Klo yg seperti itu saya jga salut Gan, tapi ada yang milih survive dijalanan dengan cara singkat, ex: nyopet. Lah yang itu bikin risih, tak jarang anak jalanan yang tetep setia jdi tkang koran atw pdgang asongan.
Semua itu kan ada sisi baik dan buruk, jadi jangan hanya memandang profesi copet. Banyak sisi positifnya ko’
Kalo memang sesuai yang digambarkan, saya sangat salut dengan penjual koran dan pedangan2 dijalan
Kenyataannya memang mampu menggerakkan roda perekonomian kan? ;(
Tidak boleh meremehkan orang baik siapapun orang tersebut.Hrusnya anak jalanan mendapatkan perhatian oleh negara atau orang yang kaya yang sekiranya mampu . .
sayang kita tak peka,smoga kalau kita menjadi orang yang kaya dapat peka dan membantu anak jalanan
Kebanyakan dari kita yang mampu, memandang penjaja koran dijalanan hanya seperti anak yang tak diurus orang tua. padahal mereka berjuang meneruskan hidup yang mungkin tanpa orang tua
masih banyak anak jalanan di Indo. klo dilihat kuantitaif mungkin jutaan dan itu miris. saat ini, bergantung pd penyelesaian dinas sosial penguasa saja akan sia2. semoga akan banyak yayasan dan lembga amal yg peduli. blogger juga bisa peduli, barangkali bisa bikin pundi amal utk mereka
Pundi amal sih sah2 aja dibanding menunggu dinas yang dari dulu sudah ada
(tapi seperti tak ada). Hanya saja, harus ada blogger yang kita kenal dengan baik memanage pundi amalWajar kang kalo emang masih ada yg menganggap sebelah mata, jalanan kan bukan tempat berjualan, bermusik ria, trotoar juga bukan tempat tidur. Mungkin saya bisa dimasukkan ke dalam orang yang menganggap sebelah mata ini, namun karena saya sendiri ga bisa berbuat apa2 untuk mereka, yo wes diem aja. Tapi bukan diem bermaksud setuju dengan adanya anak jalanan dan pengamen tersebut kang, apalagi ama preman dst.
Saya juga ngga bilang setuju dengan adanya anak jalanan, semakin banyaknya mereka berarti negara kita semakin mundur dibanding sebelum tahun 2000-an. Wajar kalau ada pro dan kontra, toh kita tak ingin mereka bertambah banyak
sayangnya, aset dan potensi besar ini masih harus menghadapi tantangan mesin2 birokrat yang sengaja diturunkan utk menggusur mereka. kalau bukan satpol pp ya trantib, atau apa pun istilahnya.
Itulah penertiban, yang kita lihat hanya dibalik ‘tugas’ tapi tak menyelesaikan masalah. Menyingkir, tapi besok mereka kembali lagi. Sampai kapan pun kalau hanya pelarang tanpa solusi bagi mereka, bisa jadi jumlahnya semakin banyak
jadi aset negara apa aset keluarga?
Mereka bukan saja aset negara sih.. tapii ujung tombak untuk beberapa oknum2
semua usaha di jalur yang halal dan legal saya salut. namun yang tidak halal juga banyak ternyata.
Mereka memang patut menjadi aset negara karna semangat mereka lebih tinggi daripada kita yang telah hidup berkecukupan..
seandainya pemerintah lebih memerhatikan mereka ya mas..
Mungkin nanti, bukan sekarang yang keadaan politik juga semrawut
Semua orang pasti punya perannya masing-masing dalam kehidupan ini.
Tidak akan ada orang kaya kalau orang miskin tidak ada, bukan begitu bukan?
Kalau kaya semua, saya mau dibilang miskin. Pasti lebih unik
ah jalanan…