Odong Odong, Hiburan Rakyat

Kebutuhan akhirnya mendesak rakyat untuk mengatur keuangan seketat mungkin hingga harus mengurangi dana hiburan dan liburan, Odong Odong salah satu solusinya.

Tak seperti cerita dongeng yang menyajikan cerita seru berakhir dengan tawa dan bahagia, tidak bagi mereka yang hanya merasakan jenjang sekolah ditingkat SLTP, itupun karena dana BOS yang telah digulirkan. Jangankan berlibur sehari, untuk makanpun sudah dijatah layaknya dibui. Tak habis rasanya kalau bercerita susah, tapi ini bukan cerita susah seperti didalam dongeng. Menghibur ditengah sulitnya zaman.

Odong odong Odong Odong, Hiburan Rakyat

Panjang, bak kereta api?

Odong Odong Dan Mobil Tua

Daripada menyimpannya didalam garasi tua, seorang pria dengan penghasilan pas pasan merakit odong odong dengan mobil tua. Mobil yang tak sepatutnya ditumpangi menghasilkan uang dengan berkeliling di pinggir kota. Bahkan odong odong kini telah memasuki kota dan semakin familiar dimata masyarakat, terutama ekonomi kelas bawah. Dengan bentuk yang mirip dengan kereta api, odong odong mampu mengangkut penumpang hingga 30 orang. Bahkan peminatnya tak pernah sepi, apalagi sangat ditunggu kaum susah yang tak pernah merasakan hiburan.

Ditengah maraknya hiburan kelas menengah, ternyata kita masih melihat sang penghibur kelas bawah. Tak ada yang peduli ketika mereka susah dan siapa yang menghibur, dan sebaliknya mereka tak butuh pandangan politik.

“Mengeluh tak ada gunanya, tak ada yang mendengar kami. Nikmati yang ada”.

Kehadiran odong odong menjadi salah satu penentu senyum tidaknya masyarakat kita. Odong odong merakyat, mendinginkan suasana keruh ditengah permainan elit yang saat ini tak mungkin terjangkau.

Odong Odong Terjangkau Dengan Senyum Manis

Oh, ya…. itu setidaknya terpancar dari senyum manis seorang bocah yang menaiki odong odong bersama Ibunya. Apa yang kita harapkan dari anak kecil hanya sebuah senyum, bukan tangisan. Apa yang kita harapkan dari ‘mereka yang susah‘ hanya tawa penuh keriangan ketika kebutuhan mereka terpenuhi. Odong odong ini telah menjawab salah satunya, bukan seperti sembako yang dari dulu tak sempat terpenuhi.

Suatu ketika penumpang tewas tergilas yang berujung pada status izin yang ternyata belum dimiliki odong odong. Ini suatu masalah yang sebenarnya tak perlu dibesar besarkan, kenapa pemerintah tak memberikan kemudahan dengan memberikan izin gratis pengoperasian odong odong? Toh, pemerintah tak pernah berinisiatif tentang hiburan rakyat kecil, ini semua ide rakyat untuk rakyat kecil. Jika pada akhirnya odong odong juga dilarang oleh karena izin operasional, tak ada yang perlu dilihat lagi sisi kepedulian pemerintah!

Inti Post:

    odong odong kereta api, odong odong, kereta odong odong, kereta api odong odong, hiburan rakyat, pembuat mobil odong-odong, mobil tua, odong odong mobil, pembuat odong odong mobil, cara buat mobil odong odong, mobil odong-odong, mobil kereta keretaan, mobil kereta odong odong, usaha odong odong, mobil odong2, kereta odong odong motor, kereta odong-odong, odong-odong, mobil odong, jasa hiburan odong-odong,
Advertisement
41 Responses to “Odong Odong, Hiburan Rakyat”
  1. June 7, 2011 at 1:05 AM #

    Odong-odong ada sebagai wujud kreatifitas, sudah sukur ada yang membuka ‘lowongan kerja’ dengan usaha mereka sendiri, tak melulu menanti “jatah” dari orang. Soal sedikit atau banyak penghasilan, anggap saja itu soal rejeki masing-masing orang.

    Kalau misalnya ada pelarangan, harusnya ada solusi, kasih pekerjaan buat mereka, jangan hanya sekedar melarang. Soal kecelakaan, anggap saja itu sebuah resiko, toh tak ada maksud untuk menghilangkan/mencelakakan orang lain, yang berijin saja tak jarang mengalami kecelakaan. Kalau orang merasa takut untuk naik odong-odong, toh tak ada kewajiban untuk orang naik odong-odong.

    Semua ada dan butuh solusi

    • June 7, 2011 at 10:04 PM #

      Benar mas, hanya karena tak sanggup mengurus izin bukan berarti harus ditutup yang otomatis menguntungkan pihak elit bisnis terterntu. Ada saja alasannya, tak patuh aturan, kalau dibebaskan bea pembuatan pasti cepat terselesaikan :D

  2. June 7, 2011 at 1:34 AM #

    Oh, kalau saya di sini suka menyebut mobil yang mirip kereta itu sebagai Kerete Kelinci, Mas. Bukan odong-odong. Kalau odong-odong itu seperti yang ada kuda-kudaannya, bisa dinaiki terus dikayuh karena ada engkolnya. Biasanya terbuat dari becak yang sudah dimodifikasi.

    Hem, diluar masalah nama, memang hiburan seperti itu sangat digemari anak-anak. Murah meriah terjangkau oleh kantong ekonomi kelas bawah. Dan masalah pelarangan karena tak berizin, selama mobilnya beroperasi di jalan-jalan kampung dan bukan ke jalan raya besar seharusnya, ya tak masalah, toh? :)

    • June 7, 2011 at 10:13 PM #

      Ya ngga masalah kalau rutenya di pinggiran kota. Nah, yang jadi permasalahan ketika ada kecelakaan seperti ini. Terus ribut soal izin, padahal tadinya kalau lewat dibiarkan saja :(

  3. June 7, 2011 at 5:53 AM #

    hmm … ada yang tergilas mobil odong2?
    susah juga ya ….
    padahal hadirnya mobil odong2 telah menjadi satu sarana rekreasi termurah bagi rakyat kecil, tetapi jika sampai dilarang karena satu insiden, hmm …

    • June 7, 2011 at 10:15 PM #

      Belum dilarang mbak, jangan takut. Pemerintah cuma ‘menyiarkan’ soal izin. Kalau ini dihentikan berarti mereka ngajak ribut dengan kelas bawah :D

  4. June 7, 2011 at 5:56 AM #

    Mobil kereta-keretaan kek gitu di daerah saya juga mulai banyak. Saya gak tahu mobil ii termasuk jenis apa dan bagaimana perizinannya.

    • June 7, 2011 at 10:16 PM #

      Biasanya jenis mobil tua, dan izin operasi di kota saya memang belum ada :D

  5. June 7, 2011 at 2:27 PM #

    Kalau di kota saya banyak seperti itu Mas, tapi kondisi kendaraannya sangat mengenaskan sekali…. Terus kalau jalan bawaannya ngebut aja, kurang memperhatikan penumpangnya yang banyak anak-anak, saya khawatir salah satu sambungannya lepas bisa berabe kan ?

    • June 7, 2011 at 10:20 PM #

      Duh mengerikan, itu namanya sudah mengalahkan sopir angkot kejar setoran :D
      Mereka kan sudah punya jalur sendiri!

  6. June 8, 2011 at 12:08 AM #

    Anak saya kemarin malah hari kartini…keliling-keliling dengan baju daerah bersama sekolahnya. Kendaraanya? Ya si odong-odong ituh :D

    • June 8, 2011 at 1:31 PM #

      Sudah kebayang gimana uniknya, mas :)

  7. June 8, 2011 at 12:50 AM #

    sampai sekarang belum kesampaian naik odong-odong, hehhee

    • June 8, 2011 at 1:33 PM #

      Cepetan deh, sebelum 2012 :lol:

  8. June 8, 2011 at 4:38 AM #

    bener-bener kreatif ….

    • June 8, 2011 at 1:35 PM #

      Penulisnya, atau odong odong nya? :mrgreen:

  9. June 8, 2011 at 8:35 AM #

    kalau odong-odong ditempat saya masih menggunakan sepeda gan,
    tapi kalau yang menggunakan mebil dilarang kurang seru kali yaa..

    • June 8, 2011 at 1:37 PM #

      kalau dilarang, benar2 kelewatan. Hiburan mereka cuma itu!

  10. June 8, 2011 at 10:27 AM #

    Nonton berita di tv, ada odong-odong yang masuk jurang di banyumas. satu balita meninggal. karena tidak kuat menanjak dan akhirnya terjungkal ke jurang.

    Kalau udah tua gini,masih dobolehin naik odong2 ga ya? hehehehe

    • June 8, 2011 at 1:45 PM #

      Boleh,… cuma bawa payung Non. Begitu nyemplung, tinggal kembangkan payung :lol:

  11. June 8, 2011 at 12:52 PM #

    kreatif ini yang namanya kreatif…
    Rezeki pasti datang pada orang-orang yang mau bekerja keras…..

    Salam kreatiF!

    Seru Jadi guru :)

    • June 8, 2011 at 1:48 PM #

      Selama ada usaha, pasti ada jalan. Rejeki datang dan tak terduga kan? :D

  12. June 8, 2011 at 3:24 PM #

    globalisasi dan modernisasi telah mengikisnya..

  13. matdaus
    June 8, 2011 at 9:06 PM #

    saya suka ini… :D ,,

  14. June 9, 2011 at 3:52 AM #

    yah, itulah fenomena yang terjadi di negeri kita yang tercinta ini. keijakan dan pembangnan lebih berorientasi pada kaum berada. jadi mungkin jika suatu saat tingkat kebutuhan akan hiburan murah ini sudah semakin mewabah, jangan kaget kalau akan ada jasa pengurusan perijinan per odong-odong an.

    • June 9, 2011 at 9:57 AM #

      Kemungkinan adanya calo, bisa jadi muncul kerjaan baru yang mungkin sedikit merepotkan :D

  15. June 9, 2011 at 8:34 AM #

    kereta full music tuh…

    • June 9, 2011 at 9:59 AM #

      Bahkan saat malam pun musik semakin keras :D

  16. June 9, 2011 at 10:45 AM #

    di desa say ajuga sudah ada lho kayak gitu…… wah semoga mendapatkan hasil yang barokah

  17. June 9, 2011 at 11:39 AM #

    di deket kosan saya sering lewat odong2 sore2…
    dan biasanya emang selalu penuh

    • June 9, 2011 at 5:59 PM #

      Ramai, plus murah ;)

  18. June 11, 2011 at 6:58 AM #

    terlalu besar dan terlalu gengsi buat naik :mrgreen:
    Fonega Posting Terakhir..Pereda Pusing Tanpa Obat

    • June 11, 2011 at 10:55 AM #

      Lagian buat apa, udah gede, isinya juga anak2. Kecuali…. lagi nyidam :D

  19. June 12, 2011 at 11:22 AM #

    hiburan murah meriah, anak-anak mesti pingin naik kereta api yang lewat di jalan raya
    di daerah saya ada mas, tapi pakai motor gerobak, dengan Rp1000 anak2 dan senang keliling kampung

    • June 13, 2011 at 11:04 AM #

      Kalau dulu, saya seneng keliling dengan gerobak sapi, ternyata tak jauh beda. Hanya fasilitasnya saja :D

  20. June 12, 2011 at 11:23 AM #

    i Like your profile
    berharap mendapat emas, tapi malah kantong terkuras
    Tapi dengan blogging lebih banyak ilmu yang di dapat gan

    • June 13, 2011 at 11:05 AM #

      Bener, uang itu ngga perlu maksa dicari. Rejeki dan jalan sudah ada masing2 kan :)

  21. June 18, 2011 at 1:08 PM #

    “Mengeluh tak ada gunanya, tak ada yang mendengar kami. Nikmati yang ada” << bener banget mas,,, lebih baik menggantungkan harapan kepada diri sendiri

    • June 18, 2011 at 9:26 PM #

      Kalau sekarang, siapa yang mau diharap? Rakyat bisa makan aja udah syukur :P

Trackbacks/Pingbacks
  1. Kereta Api, Dari Dulu Hingga Sekarang | Kang Narada - October 31, 2011

    [...] masa penjajahan berakhir, kereta api masih tetap menjadi alat transportasi utama di negeri kita. Gerbong kereta selalu penuh dan berlebih muatan, hingga setiap daerah yang [...]

Leave a Comment

Comluv