Dulu, kapal dagang tak sebesar dan seramai saat ini yang memuat lebih banyak dengan beragam jenis barang dari luar maupun antar pulau nusantara. Dulu, perahu layar telah membuka sebuah kota dipinggir pantai menjadi lebih hidup. Semakin besar pelabuhan maka jaminan berkembang sebuah kota akan terwujud yang menyerap banyak penduduk didalamnya.

Bongkar muat yang lambat pengaruhi harga?
Berlabuh Di Negeri Yang Kaya
Pelabuhan di negeri sendiri tak terhitung jumlahnya, mulai dari kecil yang hanya memungkinkan berlabuh jangkar bagi kapal laut besar hingga pelabuhan internasional yang hanya beberapa jumlahnya di negeri kaya ini. Kapal asing itu lebih suka bersandar di negeri seberang yang lengkap dan jadwal yang tepat. Padahal, pintu masuk kawasan dagang setidaknya bisa diambil alih dari kepulauan paling barat, ini yang menentukan perekonomian menjadi lebih maju dan harga lebih murah. Tidak seperti sekarang, berbagai harga melonjak tinggi hingga sebagian orang enggan untuk membeli.
Mengapa mereka enggan untuk bersandar di pelabuhan kita? Tak perlu jauh memikirkan alasan dan penyebab, kualitas kita memang masih dibawah standar yang diharapkan. Mulai dari crane yang sering rusak menyebabkan jadwal terganggu, alhasil biaya ‘parkir’ sebuah kapal membengkak. Di negara tetangga mampu menangani bongkar muat satu kapal dalam waktu tak lebih dari dua jam. Di kotaku yang predikatnya menyandang pelabuhan internasional bisa mencapai 24 jam dengan alasan crane rusak. Berapa biaya yang harus dikeluarkan kapal asing? Dan tentu saja hal ini menyebabkan kenaikan tarif kapal kargo.
Posisi Pelabuhan Yang Tak Tepat
Kepulauan kita cukup menguntungkan, dan tak salah jika kita menempatkan diri menjadi pioner di kawasan pintu masuk asia. Tapi itu hanya wacana dari sepuluh tahun yang lalu, kenyataannya kapal asing lebih cenderung berlabuh di negeri sebelah yang kecil. Layanan yang cepat dan memberikan harga yang murah bagi setiap kapal yang sandar membuat negara ini semakin kaya. Bukan kita tak mampu, tapi kualitas kita memang jauh, terlebih lagi sikap tak profesional yang membiarkan crane pelabuhan rusak berhari hari, atau memang disengaja? Posisi pulau kita yang tak tepat, atau posisi pejabat yang salah? Suka atau tidak, kita harus menelan harga barang yang mahal!
Inti Post:
- kapal laut, foto kapal kargo, bongkar muat kapal, jangkar kapal laut besar, harga kapal dagang, dicari kapal kargo, JANGKAR DAN KAPAL, harga sebuah kapal, harga parkir kapal kecil, harga parkir kapal di dermaga, jangkar perahu kecil murah, kapal Kargo, kapal laut kecil, menyerap minyak di laut, tarif kapal sandar, Tarif Kargo Laut, alat transportasi kita masih dibawah standar, Harga Kapal Laut, harga kapal, analisa negara muat kargo laut,













memang benar itu pak,terasa banget harganya di banding dengan asalnya
Sudah pasti beda jauh harganya
Ngapa juga dibandingkan ama harga di negara asalnya, jelas2 harga di negara asalnya belom di tambah dengan biaya angkut. Harusnya kan dibandingkan dengan harga di negara tetangga yang sama2 mendapat barang tersebut dari negara asalnya –”
Oh ya itu jelas mas, perbandingannya begini. Kalau dulu saat saya kerja di Cargo ship, ada kapal langsung dari Taiwan menuju Belawan dan tarif nya hanya berbeda $100/container untuk tujuan Singapore. Waktu itu tahun 90-an kan masih tergolong murah untuk elektronik. Nah, sekarang beda. Kapal dari Taiwan harus bongkar/transit di Singapore untuk mengirimkan ke Belawan, begitu juga ke Jakarta. Kapal yang langsung tentunya memberikan harga relative murah dibandingkan transit yang harus berpindah kapal. Pindah kapal itu sudah pasti ada biaya crane.
Kalau negara pembuat ya ngga usah heran kalau murah, sama seperti kita yang produksi minyak makan. Toh warga Singapore masih lebih senang belanja di Batam
memang beliau beliau sak kepenakke dewek sih,
tobat.co.id
Belum kena, ntar kalau sudah kena ya amblas sendiri
Pelabuhan internasional?? mang posisi dimana ni mas??
Di Sumut mas, salah satu pintu masuk selat Malaka
Haiyah, saya dipanggil mas… ;p Oooo,, tak kirain dibatam juga…
Salah sebut, mbak
Batam itu belum internasional port, lho…
Pemerintah seharusnya segera tanggap ne. .
kapan Indonesia bisa maju kalau begini terus…
Ngga tanggap, masih sibuk ngurusin gedung baru….
selain dikenal sbg negara agraris, negara kita juga dikenal sbg negara maritim, mas. tapi kenapa ya persoalan daerah perbatasan dan perairan dengan negeru jiran selalu saja memicu konflik yang tak berujung?
Ah, kalau bicara soal itu…..
Di negara kita sekarang juga banyak provokasi, mas. Pantas saja masalah itu tak berujung
I love Indonesia dengan segala macam carut-marut kekurangannya ini, termasuk urusan masalah pelabuhannya ini.
Semoga negara kita mau dan terus belajar untuk membenahinya sehingga pelabuhan kita bisa bersaing dengan negara tetangga.
Oh, kerja di kapal, toh Mas? Pantesan sangat hafal sekali dengan seluk-beluknya.
Dulunya sih masih kerja disitu, tapi masih hafal ko’