Sesaat saya melintasi sebuah pusat kota yang ramai dikunjungi masyarakat saat malam tiba. Sebuah gambaran hidup masyarakat kita dengan budaya dan kebutuhan gaya hidup yang melekat saat ini. Sepanjang trotoar dihiasi dengan tenda dan kursi para pedagang kaki lima, dan kita tahu bahwa fenomena ini merupakan hal yang tidak asing bagi mereka yang mencintai penjelajahan malam kota.
“Kaki lima bukan milik pemerintah, kaki lima merupakan tempat hidup para pengumpul segenggam uang demi sesuap nasi untuk hari esok”. Kalimat ini merupakan gambaran betapa sulitnya dalam menjalankan bisnis kecil disebuah kota besar, sehingga harus menggunakan fasilitas umum dalam menjalankannya.

PKL, Pedagang kaki lima
Apa yang kita lihat dalam gambaran bisnis kecil diatas merupakan salah satu bentuk persaingan sehat yang tertata rapi (walaupun dalam peraturan pemerintah setempat melarang kegiatan difasilitas umum). Tetapi dalam analisa marketing yang memungkinkan persaingan itu terjadi disebabkan adanya kebutuhan dan keinginan konsumen. Kita bisa membayangkan ketika sebuah lokasi yang strategis tetapi hanya dihuni tidak lebih dari 5 orang pedagang, apakah pengunjung tertarik untuk melakukan transaksi lebih lanjut? Walaupun sebagian dari mereka mengambil kesempatan ini sebagai bentuk usaha tanpa persaingan, tetapi warna dalam transaksi pasar akan terasa hambar.
“Oh ya, saya akan memilih pedagang yang mana?” Sebagian orang akan berfikir seperti ini ketika mereka berada disebuah lokasi pedagang yang ramai. Inilah warna yang akan terus terang warnanya sehingga mampu mengundang konsumen lebih banyak untuk singgah dilokasi tersebut.
Yang Terbaik, Yang Terlaris?
Jika Anda berfikir tentang hal ini maka sudah sepatutnya dibuang sejauh mungkin. Yang terbaik bukan berarti terlaris, dan yang terlaris tidak selalu menyediakan semua kebutuhan konsumen. Ini sebuah lokasi besar para pedagang, ada ribuan konsumen dengan ribuan kebutuhan ketika mendatangi tempat ini. Pedagang saling mengintip satu sama lain dalam mencari celah dan kekurangan pesaing mereka.
Mengikuti Jejak Orang Lain
“Dagangannya laris, besok saya buka bisnis yang sama tak jauh dari tempatnya.” Mungkin dua atau tiga pedagang dengan kesamaan barang dagangan bisa diterima konsumen, mereka bisa memilih dan menawar dalam bertransaksi. Tetapi ketika mereka memiliki populasi lebih dan hampir sebagian besar, maka warna persaingan akan berubah. Persaingan tidak sehat, harga jatuh, dan keinginan konsumen dalam menjelajah lokasi akan berkurang. Inilah yang banyak terjadi saat ini, banyak pedagang yang jatuh bangun. Pengunjung mulai sepi dan keuntungan tidak dapat menutupi biaya operasional, tak lama lokasi itu akan menjadi mati.
Mata Rantai Bisnis
Ketika konsumen membeli produk A, maka akan ada kemungkinan konsumen untuk membeli produk B sebagai pendukung. Produk C juga memiliki dukungan terhadap produk B. Mereka mendapatkan produk A dari kompetitor saya, tetapi saya menyediakan produk B. Sebuah mata rantai yang tidak akan pernah putus akan membuat lokasi tersebut tetap hidup dan warna persaingan akan semakin terang.
Inti Post:
- bentuk-bentuk persaingan, dagangan terlaris, persaingan penjual di pasar, persaingan pedagang pkl, contoh bentuk persaingan, strategi pemasaran untuk pedagang kaki lima, persaingan pedagang, persaingan antara pedagang satu dengan pedagang yang lain, pemasaran pedagang kaki lima, dagangan terlaris di pasar, persaingan usaha pedagang pasar, salah satu contoh bentuk persaingan, strategi bisnis kaki lima, strategi jualan kaki lima, strategi mearketing jualan kaki lima, strategi pemasaran di kaki 5, strategi pemasaran makanan kaki lima, strategi pemasaran pedagang kaki lima, strategi pemasaran pedagang pasar tradisional, persaingan usaha pedagang kaki,













Emang hidup penuh dengan persaingan, yang penting bagaimana caranya kita dapat bersaing secara jujur
mikirin jujur? sekarang? Smuanya udah pada sikut menyikut!
Ya ini, perlunya pendidikan untuk mereka agar kemampuan menjadi berkembang cepat
Apa mau pemerintah mikir sampe kesitu? mungkin mendatang bisa diharap, kalo sekarang?